Bogor, KABUYUTAN.Com – Tamansari identik dengan tokoh besar legendaris Nusantara asal tanah Pakuan Pajajaran Bogor, Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Tamansari adalah jejak sejarah Pajajaran, sebagai toponimi yang berakar dari nama situs Taman Sri Baginda Prabu Siliwangi. Kemudian dijadikan nama desa dan kecamatan, yang sekarang dikenal Tamansari.
Demikian diutarakan oleh pegiat budaya Sunda, Ahmad Fahir saat menjadi pemateri kunci kegiatan pelatihan wawasan kebangsaan dan penguatan ketahanan nasional yang dilaksanakan di Aula Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Selasa (29/9).
Kegiatan yang diprakarsai Pemerintah Kecamatan Tamansari diikuti 60 orang peserta, terdiri dari tokoh budaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda dari delapan desa.

Tampak hadir Camat Tamansari, Rudi Hartonio, SE, SIP, nara sumber pendamping, Ustadz Tavif Budiman, mudir PC JATMAN NU Kota Bogor, seluruh unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan Tamansari dan pimpinan organisasi sosial keagamaan tingkat kecamatan.
Ahmad Fahir yang juga Ketua Bidang Infokom Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa (SLW) mengemukakan, berdasarkan folklor, toponimi dan hasil penelitian para ahli, Tamansari salah salah satu situs terpenting Kemaharajaan Sunda Pakuan Pajajaran, yang beribukota di kawasan Batutulis, Kota Bogor sekarang.
“Tamansari sudah menjadi metropolitan Bogor sejak tahun 1482, karena di lokasi ini dilangsungkan perayaan pernikahan Srbaduga Maharaja Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Kentring Manik Mayang Sunda,” ujar Fahir yang juga ketua Panitia Napak Tilas Prabu Siliwangi – Long March Keraton Pajajaran di Batutulis ke Situs Keramat Bukit Badugul, Rancamaya Golf, 2017.
Hasil pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Kentring Manik menurunkan raja-raja Sunda Pakuan Pajajaran yang bertahta di Keraton Pakuan, Batutulis, Bogor hingga kerajaan ini runtag tahun 1579.

Nama raja-raja Sunda dimaksud, yaitu Prabu Surawisesa, Prabu Ratu Dewata, Prabu Ratu Sakti, Prabu Nilakendra, dan Prabu Ragamulya Suryakencana.
Dari garis Prabu Siliwangi – Kentring Manik juga menurunkan penguasa Banten, Surowowan, yang namanya diabadikan sebagai benteng kesultanan Banten. Surosowan merupakan kakek kandung Maulana Hasanuddin dari garis ibu.
Selain memiliki korelasi kuat dengan sejarah Prabu Siliwangi, Kecamatan Tamansari juga memiliki banyak situs jejak Kerajaan Sunda 200 tahun sebelum era Srubaduga. Peninggalan bersejarah tersebut terhampar di Kawasan Sindangbarang, yang terletak di Desa Pasir Eurih dan sekitarnya.
“Jika ditarik mundur ke belakang, 5.000 tahun silam Kawasan Gunung Salak adalah jejak peradaban megalitikum, yang berpusat di daerah Cibalay, Tenjolaya. Sebagian jejak megalitikum berada di Kecamatan Tamansari,” tegas Fahir.

Sekretaris Camat Tamansari, Teguh Sugiarto menambahkan pemahaman terhadap sejarah dan budaya sebagai urgensi untuk menajaga identitas dan ketahanan nasional.
“Nasionalimse akan kian kokoh kalau ditopang oleh lokalitas yang kuat, dengan menjaga warisan besar sejarah masa silam Prabu Siliwangi dan para leluhur Sunda Pakuan Pajajaran,” bebernya
Menurut Teguh, identitas nasional dibangun atas dasar bhinneka tunggak ika, berakar dari kemajmukan luar biasa yang kita miliki sebagai sebuah bangsa. Karenanya, menjaga budaya dan Bahasa lokal, bagian dari ikhtiar memperkuat ketahanan nasional,” tutur Sekretaris DPC Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (IKA PMII) Kabupaten Bogor.

Camat Tamansari, Rudi Hartono mengatakan, penyelenggarakan kegiatan ini dimaksudkan untuk menguatkan komitmen kebangsaan dan mengokohkan ketahanan nasional di wilayah yang berada di kaki Gunung Salak tersebut.
“Kita hari ini hidup pada sebuah era di mana batas territorial sangat tipis, bahkan nyaris tidak ada batas. Secara fisik bisa saja dijaga. Tapi pemahaman, komitmen dan identitas sangat sulit dijaga,” tegas Camat Rudi.
Camat Rudi Hartono berharap, pendidikan wawasan kebangsaan dapat menjadi penguat nasionalisme, penopang ketahanan dan pembangkit komitmen kebangsaan masyarakat Tamansari.
Rusmana
