Melepas Kepergian Guru Mulia, Prof KH Syukron Ma’mun, BA (Bagian 2 dari 3 Tulisan)

Oleh Ahmad Fahir, Alumnus Ponpes Daarul Rahman Jakarta, Angkatan 18, Tahun 1997

Setiap orang dilahirkan dan dibentuk oleh sejarah zamannya. Apalagi seorang pemimpin besar, biasanya ia lahir dan mengalami tranformasi vertikal, karena dibentuk oleh sejarah. Sejarah membentuk karakter, dan mengubah arah hidup seseorang.Hal sama berlaku bagi Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta, Prof KH Syukron Ma’mun, BA.

“Saya dilahirkan, dibentuk dan dibesarkan oleh sejarah, Momentum dan takdir sejarah membentuk karakter saya. Mengubah banyak jalan hidup saya. Sejarah mendorong saya berkembang hingga seperti sekarang,” kata Kiai Syukron Ma’mun dalam sebuah perbincangan dengan penulis.

Bagi Syukron Ma’mun, ada sejumlah dinamika sejarah yang menjadi faktor kunci perjalanan hidupnya. Ia tumbuh saat politik nasional mengalami sejumlah gejolak akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Situasi yang terjadi saat itu sangat berpengaruh terhadap karakternya.

Selanjutnya, faktor KH Idham Chalid dan Nahdlatul Ulama. Perjumpaannya dengan KH Idham Chalid mengantarkannya pada panggung politik nasional. Hal itu berpengaruh besar pada muara takdir kehidupan yang ia jalani.

Terlahir di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Lalu melakukan pengembaraan intelektual dengan menimba ilmu pengetahuan di sejumlah pondok pesantren di beberapa daerah di Jawa Timur. Kemudian ia hijrah ke Jakarta, menapaki sejumlah khidmat kehidupan, dengan malahirkan mahakarya warisan Pondok Pesantren Daarul Rahman hingga menghembuskan napas terakhir Minggu (18/10/2026),

Menapaki Jalan Kaderisasi NU: dari IPNU, PMII hingga GP Ansor

Kiai Syukron terbilang sebagai kader NU yang menapaki jalan kaderisasi dari bawah. Ia bukan hanya lahir dari keluarga kiai yang fanatik NU dan tumbuh dalam lingkungan sosial yang disebut ‘Republik’ NU, yaitu Pulau Madura. Lebih dari itu, ia menapaki semua jalur kaderisasi organisasi underbow NU.

Dimulai dengan menjadi pelopor lahirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Cabang Kabupaten Sampang, pada 1953, saat ia duduk di bangku sekolah menengan pertama. Ia juga dipercaya sebagai ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Sampang saat itu.

Selanjutnya, saat menimba ilmu di Pesantren Modern Gontor, Kabupaten Ponorogo, Kiai Syukron bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yaitu sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama. Ia menjadi motor gerakan PMII sambil kuliah di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, tahun 1963-1967.

DIJENGUK SAHABAT: KH Ma’ruf Amin menjenguk KH Syukron Ma’mun saat sedang dalam perawatan, beberapa tahun silam.

Saat menjalani studi perkuliahan di ISID Syukron Ma’mun tercatat sebagai guru di Pesantren Modern Gontor. “Saya mengabdi sebagai guru muda di Gontor sambil kuliah di ISID serta aktif di PMII Cabang Kabupaten Ponorogo,” ungkap Kiai Syukron.

Berkat kemampuan orasinya yang bagus dan memiliki ciri khas dalam ceramah, Syukron Mamun muda sudah sering menerima panggilan dakwah ke desa-desa di sekitara Karesidenan Madiun.

Karesidenan ini disebut juga dengan Kawasan Mataraman. Daerah yang secara tradisional dikenal sebagai basis merah. Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi salah satu partai besar pada era Orde Lama, memiliki pengrauh sangat kuat di kawasan Mataraman Raya,

Syukron mengaku saat menjalani tugas dakwah di luar Gontor, sering berhadapan langsung dengan pemuda PKI. Sering menggunakan golok dan celurit, agar berhenti dakwah. Karenanya, ia memutusukan aktif di Gerakan Pemuda Ansor Cabang Ponorogo.

“Berkat aktif di Gerakan Pemuda Ansor, ke mana-mana kalau ceramah, selalu dikawal Banser. Sangat terbantu,” ujar Syukron.

Dibawa ‘Terbang’ Kiai Idham Chalid ke Jakarta

Keterlibatan di PMII dan GP Ansor Cabang Kabupaten Ponorogo, membuat nama Syukron Ma’mun harum di kalangan kiai-kiai NU setempat. Suatu ketika datang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Idham Chalid ke Ponorogo. Nama Syukron Ma’mun dipromosikan, untuk dibawa ‘terbang’ ke Jakarta oleh para kiai setempat.

Idham Adalah Ketua Umum PBNU periode 1956-1984. Ia memiliki andil yang sangat besar dalam perjalanan hidup Kiai Syukron Ma’mun. Guru politik orang NU ini membentuk  karakter KH Syukron Ma’mun sedemikian kuat.

GURU POLITIK ORANG NU: Ketua Umum PBNU periode 1956-1984, Dr. KH. Idham Chalid dijuluki sebagai guru politiknya orang NU.

“Kiai Idham Adalah faktor sangat penting yang membantu saya tumbuh, berkembang, dan mencapai posisi hingga seperti sekarang. Saya betu-betul berhutang jasa besar ke Kiai Idham. Saya menganggap beliau sudah seperti ayah sendiri,” tegasnya.

Syukron mengaku mendapatkan kehormatan mendampingi KH Idham Chalid selama sembilan tahun. “Saya dikader, digembleng, diberi banyak jalan dan dipromosikan oleh KH Idham Chalid. Dipromosikan sebagai muballigh, sebagai calon pemimpin NU. Diberi kesempatan memimpin Pesantren Darul Ma’arif, sebagai Direktur Perguran” ungkapnya.

Kader Terbesar Kiai Idham Chalid

Kedekatan istimewa dengan Kiai Idham mengubah cara pandang orang terhadap Syukron Ma’mun. Tak jarang Syukron diberikan tugas secara langsung oleh KH Idham untuk ceramah atau kampanye Partai NU, menggantikannya.

“Saya sering diajak bareng oleh Kiai Idham kunungan ke daerah. Saat tiba di lokasi, Kiai Idham memilih istrirahat. Saya disuruh naik panggung menggantikannya. Karean yang digantikan adalah ulama besar, tokoh nasional sekelas Ketua Umum PBNU, masyarakat pun menilai saya memiliki kualitas yang sama,” kata Syukron.

Bagi Syukron promosi, kaderisasi dan kesempatan yang ia dapat dari Kiai Idham dalam pengembangan bakat orasinya, lebih besar dari bakat bawaan yang ia miliki.

MAKAM KIAI IDHAM: Menyambut Hari Santri Nasional 2026, saya menyambangi makam guru KH Syukron Ma’mun, mendiang Kiai Idham Chalid, di Pondok Pesantren Darul Qur’an, Kecamatan Cisarua, Puncak, Kabupaten Bogor, Kamis (8/11/2026).

“Saya memang memiliki bakat pidato turunan. Ayah saya seorang dai, seorang orator. Namun faktor kesempatan yang didapat berperan lebih besar daripada bakat alami.”

Dia melanjutlan, bakat  tidak akan ada artinya kalau tidak menemukan kesempatan, lingkungan dan jaringan untuk berkembang. “Di sinilah pengaruh KH Idham Chalid sangat saya rasakan. Pak Idham banyak memberikan kesempatan Memberikan saya banyak jalan. Beliau betul-betul melakukan tugas kaderiasi, dengan mempersiapkan saya sebagai kadernya,” paparnya.

Dosen Pascasarjana Universtas Indonesia, Dr Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, Kiai Syukron Ma’mun merupakan kader terbesar yang ditelurkan Kiai Idham Chalid.

“Saya kira Kiai Syukron Ma’mun sebagai murid terbesar Kiai Idham. Dari sekian banyak kader yang digembleng dan dipersiapkan secara matang oleh Kiai Idham Chalid, beliau yang paling menonjol..” (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *