Melepas Kepergian Guru Mulia, Prof KH Syukron Ma’mun, BA (Bersambung – Bagian 1 dari 3 Tulisan)

Oleh Ahmad Fahir, Alumnus Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta, Angkatan 18, Tahun 1997

Minggu pagi 18 Oktober 2026 cuaca seolah mendadak gelap dan mendung di atas langit bumi Pakuan Pajajaran, Bogor. ‘Perubahan’ mendadak yang tidak ditandai oleh fenomena alam sebagaimana lazimnya, membuat saya kaget.

Dari kejauhan sana, sejumlah sahabat memberikan informasi melalui telpon maupun pesan singkat WA, bahwa Prof KH Syukron Ma’mun, BA, guru mulia kami, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta telah berpulang.

Saya tidak serta merta percaya atas informasi yang diterima. Beberapa tahun silam pernah menyebar informasi wafatnya sang guru. Namun setelah ditelusuri ternyata hoax. Beliau dalam keadaan sehat wal afiat. Beraktivitas secara normal, bahkan sedang mengajar santri.

Saya pun berhati-hati saat pesan berantai mengenai wafatnya Kiai Syukron Ma’mun menyebar pada Minggu, 20 Oktober. Setelah mendapatkan informasi valid, saya pun akhirnya percaya dan pasrah, sang kiai telah pergi. Meninggalkan alam fana ini untuk selamanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan guru. Selamat jalan kiai.

Tulisan ini sebagai salah satu cara saya untuk melepas kepergian beliau, mengantarkan ke peristirahatan terakhir dengan doa. Menjaga rabithah secara bathin relasi guru murid melalui penuangan catetan sederhana.

Menyambangi Kampung Kelahiran di Pulau Madura

Kiai Syukron Ma’mun lahir dari keluarga taat agama, keluarga kiai dengan tradisi ajaran Nahdlatul Ulama yang sangat ketat, di kota Sampang, Madura, Jawa Timur, 21 Desember 1941. Dua bulan lagi ulang tahun ke-85.

Keluarga besarnya tinggal di kawasan Kampung Kajuk, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang. Terdapat sebuah komplek pondok pesantren besar yang dikelola oleh keluarga kakaknya, bernama As-Sirojiyyah.

Saya sudah dua kali menyambangi kediaman orang tua dan keluarga besar Kiai Syukron di Madura. Pertama, pada 1997, saat studi di Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY), Tebuireng, Jombang. Pernah sekali menyambangi kediamannya, bersama keponakannya, Gus Fauzan.

Kedua, sekitar tahun 2021, kembali menyambangi kediaman keluaga besar Kiai Syukron, untuk melakukan napak tilas perjalanan hidup beliau dari Kota Sampang hingga Jakarta. Menyusun penggalan demi penggalan cerita, untuk diramu menjadi sebuah karya, sebagai bahan belajar setidaknya bagi kami santri beliau.

Mengelola Pesantren Terbesar di Jantung Ibukota

Kepergian KH Syukron Ma’mun meninggalkan kesedihan bagi jutaan orang, mengingat beliau adalah seorang ulama besar dan muballigh terkemuka, yang menapaki jalan dakwah sangat panjang: selama 60 tahun. Terlebih bagi mereka yang pernah “tinggal bersama” selama enam tahun menjadi santrinya, menimba ilmu di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta.

Pesantren Daarul Rahman didirikan Kiai Syukron pada 1975, di Kelurahan Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya berada di kawasan segi tiga emas, urat nadi ekonomi Ibu Kota. Di Jakarta, hanya Pesantren Daarul Rahman yang lokasinya berada di jantung ibu kota, benar-benar berada di urat nadi denyut ekonomi nasional.

Selama saya menimba ilmu di Daarul Rahman, kami bertetangga langsung dengan Wakil Presiden RI, Sudarmono. Dingding pesantren bersebelahan langsung dengan dingding rumah orang kuat kedua Orde Baru itu. Tidak jauh dari rumah Sudarmono, terdapat banyak rumah Kedutaan Besar asing, yang tersebar di kawasan Jalan Senopati, dan Jalan Sriwijaya.

Santri Daarul Rahman setiap hari Minggu olahraga, lari ke kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Hal ini berlangsung selama 40 tahun, sejak Daarul Rahman berdiri pada 1975 hingga 2015.

Setelah 40 Tahun, Daarul Rahman Pindah dari Senayan ke Jagakarsa

Pada 2015 Pesantren Daarul Rahman I berpindah lokasi ke kawasan Jagakrsa, Jakarta Selatan. Bisingnya kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) yang diperparah oleh banyaknya bangunan pencakar langit, mengganggu kondusivitas dan efektivitas penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar santri..

Selain berlokasi di Jakarta sebagai induk, pesantren asuhan Kiai Syukron tersebar di dua lokasi lain di Jabodetabek. Pesantren Daarul Rahman II, terletak di Kampung Jambu, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Sedangkan Daarul Rahman III berada di kawasan Parung. Tepatnya berlokasi di Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Sawangan, Kota Depok.

Dari tiga pesantren yang tersebar di tiga kota, Kiai Syukron Ma’mun mengasuh lebih dari 4.000 orang santri, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah alumni Daarul Rahman mencapai puluhan ribu orang. Ratusan diantaranya sudah mengelola pesantren sendiri. Sebagian besar tersebar di wilayah Jabodetabek.

Kiai Syukron Ma’mun adalah tokoh nasional lintas zaman. yang memiliki banyak atribut, Beliau adalah muballigh terkemuka Indonesia yang dijuluki sebagai “Singa Podium Ibukota”, maha guru dari banyak dai nasional, pendidik, bahkan politisi.

Sejumlah muballigh terkemuka merupakan murid binaan langsung Kiai Syukron, yaitu dai sejuta umat KH Zainuddin MZ, KH Nur Iskandar SQ, dan KH Manarul Hidayat.

Menolak Tunduk pada Rezim Orde Baru

Pengalaman enam tahun menimba ilmu di Pesantren Daarul Rahman, menjadi motivasi dalam menyelami perjalanan hidup sang guru. Terlebih saya dibesarkan dalam dunia jurnalistik. Bagi seorang jurnalis, tulisan seperti sebuah energi, stamina untuk terus berkarya memotret realita.

Bisa disebut, saya menimba ilmu di Daarul Rahman, saat Kiai Syukron Ma’mun sedang berada di puncak ketenaran sebagai dai nasional. Apalagi pada tahun tersebut, Rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto tengah berada di puncak kekuasaan.

Kiai Syukron  dikenal sebagai muballigh yang sangat vokal pada kekuasaan, sehingga dijuluki Singa Podium Ibukota. Bahkan Ketika hanya ada segelintir orang bicara lantang di muka umum, Kiai Syukron menunjukkan diri sebagai tokoh publik yang tidak punya rasa takut pada rezim yang berkuasa. Ujung senapan atau ancaman penjara rezim tangan besi kala itu, sama sekalio tidak membuatnya ciut dalam menyampaikan dakwah, bahkan ketika harus bicara vokal.

Dalam bentang panjang 60 tahun menapaki dunia dakwah, lebih dari separuh waktu atau kalau boleh disebut puncak ketenaran Kiai Syukron sebagai seorang muballigh, terjadi berbarengan dengan era kekuasaan Soeharto. Dari tahun 1966 hingga 1998 alias selama 32 tahun.

“Sakti” dari Jeratan Kriminalisasi Penguasa

Jika banyak dai vokal pada era Soeharto yang dikenal sangat refresif, sampai harus dicekal atau masuk penjara karena ceramahnya dianggap terlalu keras pada rezim penguasa, hal berbeda terjadi pada Kiai Syukron. Ia nyaris tidak pernah tersentuh tangan kekuasaan, walaupun selalu konsisten menyampaikan kritik kerasnya pada sejumlah praktik menyimpang rezim penguasa kala itu.

Lalu apa rahasia atau resepnya? Kiai Syukron mengatakan, ia selalu kritis pada Orde Baru, namun tidak pernah menyebut nama Soeharto atau tokoh penting rezim penguasa kala itu dalam ceramahnya. Saat menyampaikan kritik, ia tidak pernah menyebut nama pejabat. Hal itu yang membuatnya selalu selamat. Namanya bersih tidak pernah terlibat tragesi apapun yang ad di Jakarta baik saat Orde Baru berkuasa maupun setelahnya.

“Rezim Orde Baru tidak pernah menemukan cara untuk memasukan saya ke penjara, walapun saya dinilai sangat vokal dalam ceramah, karena tidak pernah menyebutkan nama. Tidak bisa dijerat oleh pasal. Saya sering diinterogasi polisi, tapi mereka tidak bisa menangkap, karena tidak ada alasan secara hukum,” kata Kiai Syukron.

Kiai Syukron vis-à-vis Rezim Penguasa

Relasi vis-à-vis dengan kekuasaan terus dijaga oleh Kiai Syukron setelah Orde Baru tumbang pada 1998. Seolah ia ditakdirkan untuk selalu jadi kritikus rezim penguasa. Tidak peduli siapapun presiden yang berkuasa, semuanya diperlakukan sama. Ia selalu konsisten dalam memandang kekuasaan. Istikomah berada di luar ring kekuasaan.

Saat Gus Dur, Ketua Umum PBNU 1984-1999 menjadi Presiden ke-IV RI, Kiai Syukron tetap vokal. Sikap kritis pada kekuasaan tidak hilang hanya karena penguasanya berganti atau berubah dengan alasan tokoh NU sedang menjabat.

Begitupun saat Megawati, SBY, Joko Widodo hingga Prabowo Subianto berkuasa, sikap dan perlakuannya tetap sama. Kekuasaan adalah objek yang harus dikritisi demi kebaikan pengelolaan kebijakan, agar tidak merugikan masyarakat.

Lord Action, sejarawan terkemuka Inggris mengemukakan, “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.” Pepatah ini berarti kekuasaan cenderung membuat orang korup, dan kekuasaan absolut akan membuat seseorang korup sepenuhnya. (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *