Oleh Muhammad Faris, Pengasuh Pondok Pesantren Humaira, Desa Susukan, Bojonggede/ Sekretaris MWCNU Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor
Satu dasawarsa sudah Hari Santri Nasional diperingati. Pada tahun ini, Kementrian Agama RI mengusung tema HSN, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Istilah Indonesia Emas, tentunya merujuk kepada Visi ndonesia Emas 2045. Dimana Negara tercinta ini menginjak usia 100 tahun kemerdekaan.
Ada delapan agenda yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, yaitu: mewujudkan transformasi sosial; transformasi ekonomi; transformasi tata Kelola; memantapkan supremasi hukum, stabilitas dan kepemimpinan Indonesia; ketahanan sosial budaya; Pembangunan wilayah yang merata dan adil; mewujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas serta ramah lngkungan; dan mewujudkan kesinambungan Pembangunan.
Peran Santri Menuju Indonesia Emas
Tema Hari Santri Nasonal 2026 mengisyaratkan kepada para santri mempersiapkan diri untuk mengambil peran mewujudkan delapan agenda tersebut. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan, “Santri hari ini adalah pemimpin di masa mendatang”.
Santri diposisikan bukan hanya sebagai pembelajar ilmu agama, melainkan sebagai kekuatan negara dalam pendidikan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, sosial-budaya dan sosial-politik.
Setiap 22 Oktober bangsa ini selalu diingatkan bahwa perjuangan membangun Indonesia tidak hanya di Gedung pemerintahan saja.
Kantor perusahaan, kampus, sekolah dan ruang-ruang digital pun ikut andil menggaungkan semangat perjuangan nasional. Para netizen yang siap mengawal berbagai kasus kejahatan yang menguap dari dunia nyata ke dunia maya.
Perjuangan membangun Indonesia juga tumbuh di balik bilik rombeng pesantren, lekar-lekar reot surau dan majelis ta’lim tempat santri menimba ilmu Agama.
Butuh SDM Berkarakter Tasawuf
Menuju Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan Sumber Daya Manusia yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknnologi. Tetapi juga membutuhkan Sumber Daya Manusia yang berkarakter sufi.
Di pesantrren, para santri tidak hanya belajar ilmu agama. Melainkan juga ditempa, dididik dengan pembiasaan berakhlak yang baik seperti ta’at beribadah, sabar, Ikhlas, tawakal, tawadhu (rendah diri), qona’ah (selalu merasa berkecukupan), istiqomah,dan sebagainya, sebagai upaya tazkiyatu nafs (pensucian jiwa) yang akan membentuk fondasi spiritual seorang santri.
Jalan spiritualitas dimulai dengan pembiasaan ta’at beribadah. Proses ini membentuk santri yang jujur, disiplin dan bertanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang nantinya akan Nampak dalam etos kerja dan pengabdian kepada masyarakat. Santri yang ditempa pendidikan spiritual cenderung memiliki kesadaran tinggi terhadap adab dan akhlak dalam interaksi sosial.
Kesadaran spiritual membentuk konsep ihsan dalam diri santri. Sehingga santri mampu menjaga harmonisasi hubungan mereka dengan Allah Swt (hablun minallah) dan hubungan dengan sesame manusia (hablun minannaas).
Nilai Spiritua Modal Santri Hadapi Tantangan Zaman
Nilai spiritual menguatkan santri dalam menghadapi tantangan zaman. Nilai sabar dan syukur sebagai modal santri menghadapi perubahan zaman yang cepat yang disebabkan oleh disrupsi teknologi yang semakin memperketat persaingan kehidupan duniawi. Santri tidak hanya mengemban amanah sebagai penjaga tradisi keilmuan para ulama, tetapi juga mampu berinovasi dan beradaptasi. Ketahanan spiritual kaum santri membuat mereka tegar, Tangguh dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan dan sulitnya kondisi kehidupannya yang serba terbatas. Tidak serakah ketika berkekurangan dan tidak kikir ketika memiliki kelebihan, karena akhlak zuhud dan tawakal yang sudah tertanam.
Hari ini, peran santri tidak hanya di dalam sekat bilik ruang pendidikan pesantren, mereka dituntut hadir pada persoalan Pendidikan umat, penguasaan teknologi, permberdayaan ekonomi umat, literasi digital dan problem solver dalam setiap permasalahan umat. Karena santri sadar, ilmu yang dimilikinya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemaslahatan umat.
Peringatan Hari Santri Nasional mencatat peran penting santri dalam perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari ini perjuangan itu berlanjut pada proses pembangunan negara. Menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini membutuhkan santri yang matang secara intelektual dan spiritual. Karena pembangunan negara tidak hanya bermodalkan intelektualitas, melainkan juga spiritualitas.
Ketika intelektual dan spiritual berpadu, santri tidak hanya bertugas sebagai pewaris keilmuan ulama dan pesantren. Santri akan menjadi kekuatan nyata yang akan menjaga dan mewarisi Negara Kesatuan Republik Indonesia, memakmurkan kehidupan berbangsa dan bernegara agar terwujud cita-cita negara yang baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofuur.
Demikian besar harapan negara kepada para santri. Walau demikian, kematangan spiritual santri tidak membuat santri pesimis, seraya bertanya: “Jika santri menguatkan negeri, lantas siapa yang menguatkan santri?”. Pertanyaan tersebut akan kami jawab sendiri: “Do’a dan ridho kiai yang akan menguatkan kami”.
