Melepas Kepergian Guru Mulia, Prof KH Syukron Ma’mun, BA (Bagian Tiga – Habis)

Oleh Ahmad Fahir, Alumnus Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta, Angkatan 18, Tahun 1997

Secara umum arus utama penyelenggaraan pesantren di Indonesia terbangun dalam dua poros alias mazhab. Ada poros tradisional. Ada poros modern. Pemaknaan terhadap istilah ini, terutama pada diksi modern sangat relatif, tergantung siapa yang melihatnya.

Secara umum, pendidikan modern artinya yang menyalenggarakan persekolahan, dan menggunakan model kelas dalam proses belajar mengajar peserta didik. Maka kalau kriteria ini dijadikan acuan, semua pesantren yang menyelenggarakan sekolah formal disebut modern.

Hal itu sesuai dengan karater tradisional yang menjadi ciri khas pesantren, yang menjadi identitas kultural model pendidikan asli bumi Nusantara. Sebelum Pendidikan persekolahan yang diperkenalkan Belanda tumbuh, Masyarakat Nusantara menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan utama.

Namun, bila istilah modern ini dipersempit pada mereka yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Modern Gontor, Ponorogo atau pesantren turunannya, defenisinya menjadi berbeda.

Modern artinya menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar serta Bahasa percakapan santri selama 24 jam tinggal di asrama. Pendidikan modern dicirikan penerapan disiplin yang ketat bagi santri. Sedangkan proses belajarnya dibuat secara kelas.

Gurunda, Prof KH Syukron Ma’mun, BA merupakan prodak dari dua lembaga pendidiikan bercorak tradisional sekaligis alumnus pesantren berciri modern. Ia merupakan alumnus Pesantren Sidogiri, Pasuran, dan Pesantren Modern, Gontor. Produk penggemblengan arus utama dua model pesantren.

Pelopor Kurikuim Pesantren Terpadu di Indonesia

Jika Sidogori, Pasuran, disebut sebagai salah satu kutub pesantren tradisional di Indonesia, dan Gontor, Ponorogo, diklaisifikasikan sebagai pelopor pesantren modern, lalu bagaimana dengan KH Syukron Ma’mun dengan Daarul Rahmannya? Apakah lebih mengadopsi kurikulum Sidogir atau Gontor? Jawabannya, menarik ditunggu bukan?

Tulisan serial bagian ketiga dari tiga tulisan yang saya susun ini, akan mengulas seputar pilihan kurikulum yang diambil Gurunda Kiai Syukron Ma’mun saat ia mendirikan Daarul Rahman I, Jakarta, 51 tahun silam.

DAARUL RAHMAN SENOPATI: KH Syukron Ma’mun dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan Pesantren Daarul Rahman I, Jalan Senopati, Senayan, Jakarta Selatan. Di lokasi yang berada di jantung Ibu Kota Jakarta ini Daarul Rahman kokoh berdiri selama 40 tahun, dari tahun 1975 hingga 2015. Pada 2015, lokasi Daarul Rahman I berpindah ke kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sejak didirikan hingga usia 40 tahun Daarul Rahman I beralamat di Jalam Senopati, Kelurahan Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Terhitung 11 tahun silam, 2015, Daarul Rahman I berpindah ke Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dinamika jantung kawasan bisnis segi tiga emas yang sangat gemerlap dan kultur urban masyarakat ibu kota yang serba kebendaan, tidak membuat Kiai Syukron Ma’mun silau. Ia memilih mendirikan Pesantren Daarul Rahman berdasarkan pada kebutuhan strategis pewarisan nilai keislaman. Ia melihat pesantren sebagai lembaga kaderiasi ulama.

Oleh karena itu, sejak didirikan Daarul Rahman memberlakukan kurikulum mandiri. Kurikulum dibangun secara otonom oleh pesantren. Sama sekali tidak ada keterlibatan pihak luar, dalam hal ini pemerintah. Sejak berdiri Daarul Rahman tidak pernah ikut ujian negara. Kebijakan yang dipertahankan hingga Kiai Syukron berpulang pada Minggu (18/10/2026),

Kurikulum mandiri khas Daarul Rahman masih dipertahankan hingga sekarang. Guru atau santri Daarul Rahman, mungkin satu-satunya komunitas pendidikan DKI, Jawa Barat dan Banten, yang asing dengan istilah kurikulum atau model pembelajaran nasional yang terus berubah-ubah dari tahun ke tahun. Ada istilah, ganti menteri pendidikan, ganti kurikulum. Hal ini sama sekali tidak berlaku bagi Daarul Rahman selama 51 tahun perjalanan.

Kemandirian ini membuat KH Syukron dan Daarul Rahman leluasa memasukan materi ajaran sesuai kebutuhan dan target yang ingin dicapai. Maka lahirlah istilah Kurikulium Terpadu, yaitu perpaduan atara kurikulum khas Pondok Pesantren Sidogiri dengan Kurikulum model Pesantren Modern Gontor.

Padukan Mazhab Sidogiri – Gontor, Inspirasi Ratusan Pesantren

Secara umum porsi kurikulum terpadu hasil inovasi KH Syukron Ma’mun, yaitu 70 persen materi pelajaran agama (kutubut turats), yang bersumber dari ‘kitab-kitab kuning’ warisan ulama masa silam dan Bahasa Arab. Sedangkan 30 persen lagi untuk materi umum, sains dan Bahasa Inggris.

Santri Daarul Rahman wajib menguasai ‘kitab kuning’ dan sehari-hari harus menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pelajaran maupun bahasa percakapan antar santri.

Model kurikulum terpadu khas Daarul Rahman kini menjadi rujukan utama pengelolaan lembaga pendidikan pondok pesantren di Tanah Air. Para pendiri pesantren akan mengambil tiga pilihan kurikulum, yaitu tradisional ala Sidogir, modern ala Gontor, atau memadukan kedua mazhab kurikulum tersebut seperti yang dikembangkan KH Syukron Ma’mun dengan bendera Daarul Rahmannya.

Khusus untuk pesantren dengan brand atau jaringan alumni Daarul Rahman saja, sekarang sudah ada ratusan pesantren di Tanah Air yang mengadopsi kurikulum hasil ijtihad Gurunda Kiai Syukron Ma’mun.

Hal ini menunjukkan besarnya kontribusi dan peran Kiai Syukron Ma’mun bagi kemajuan pendidikan pesantren di Indonesia. Inovasi kurikulum yang dilakukan Kiai Syukron 51 tahun silam, menginspirasi banyak orang. Terobosan besar itu menjadikan pesantren kian diminati oleh masyarakat berkat banyaknya model kurikulum dan ciri khas pengelolaan.

Pertemuan Sanad Keguruan Sidogiri – Gontor

Direktur Pondok Pesantren Daarul Rahman I Jakarta, Gus Faiz Syukron Ma’mun merilis silsilah sanad keilman KH Syukron Ma’mun, yang berakar dari Pesantren Sidogiri dan Gontor, Jawa Timur. “Silsilah sanad ilmu sangat penting. Saya diperintahkan oleh ayahanda KH Syukron Ma’mun, dan banyak alumni yang meminta, agar sanad keilmuan Daarul Rahman yang tersambung secara lengkap hingga Rasulullah SAW ditelusuri,” tegas Faiz.

Menurut pria yang kini dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, sanad ilmu KH Syukron dari kedua pesantren yang menjadi ladang ilmunya bertemu pada akar dan guru yang sama, yakni Syaikh Mahfuzh At-Turmusi, di Pondok Pesantren Termas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, yang terletak di barat daya Jawa Timur.

“Sanad keilmuan KH Syukron Ma’mun perpaduan Pesantren Sidogiri dan Gontor. Sanad ilmu pendiri Sidogiri dan pendiri Gontor bertemu di guru dan pesantren yang sama, Syaikh Mahfuzh At-Turmusi, Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur,” ungkapnya.

Syaikh Mahfuzh At-Turmusi adalah seorang ulama ahlussunnah wal jamaah di bidang ilmu fiqh, hadits, dan qiroat yang mengajar di Masjidil Haram. Lahir di Termas, 31 Agustus 1868 dan wafat di Mekah, 20 Mei 1920, dimakamkan di Jannatul Ma’la.

Bila rundayan silsilah sanad ilmu Syaikh Mahfuzh At-Turmusi dirunut secara detail dan berurutan, ia tercatat sebagai generasi ke 45 rantai emas silsilah ilmi dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sedangkan KH Syukron Ma’mun merupakan murid generasi ke-4 dari Syaikh Mahfuzh At-Turmusi, baik dari jalur Sidogiri maupun Gontor.

Dari Sidogiri, sambung Gus Faiz, Kiai Syukron belajar ke KH Nawawi bin Nurhasan, dari KH Abdul Jalil Fadhil, dari KH Muhammad Kholil bin Nawawi, dari Syaikh Mahfuzh Termas.

Selanjutnya, terang Gus Faiz, dari jalur Gontor, KH Syukron Ma’mun merupakan santri KH Ahmad Zarkasyi, dari KH Ahmad Sahal, dari KH Mansur Jusari, yang belajar langsung ke Syaikh Mahfuzh, Termas.

“Baik dari sanad Sidogiri maupun Gontor, KH Syukron Ma’mun pemegang sanad ilmu generasi ke-49 dari mata rantai emas Rasulullah SAW,” demikian KH Faiz Syurkon Ma’mun. (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *