Dari Kobong Triplek Bertransformasi Menjadi Institusi Pendidikan Islam Terkemuka di Kabupaten Bogor
Oleh Ahmad Fahir, Wakil Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor
Bogor, KABUYUTAN.com – Pondok Modern Ummul Quro Al-Islami merupakan sebuah institusi pendidikan Islam terkemuka di Kabupaten Bogor. Dengan jumlah santri mencapai 4.000 orang lebih, menempatkan pesantren ini pada populasi tiga besar dengan jumlah peserta didik terbanyak di bumi Pakuan Pajajaran Bogor.
Berlokasi di Kampung Banyusuci, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Ponpes Ummul Quro Al-Islami didirikan oleh mendiang KH Helmy Abdul Mubin, Lc, pada 21 Juli 1993.
Sebelum mendirikan Pesantren Modern UQI, Kiai Helmy merupakan pimpinan Ponpes Daarul Rahman II, yang terletak di Kampung Jambu, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng. Berjarak sekitar 3 KM ke arah barat dari UQI.
Hubungan Kekerabatan dengan Prof KH Syukron Ma’mun, BA
Selain lama mengabdi sebagai guru di Ponpes Daarul Rahman I, Jakarta dan menjadi pimpinan Daarul Rahman II di Leuwisadeng, KH Helmy memiliki ikatan kekerabatan dengan Prof KH Syukron Ma’mun, BA. Beliau tak lain sebagai kakak ipar Kiai Helmy.
Keduanya menantu dari keluarga Pahlawan Nasional, tokoh NU zaman Orde Lama, KH Masjkur. Ia menteri Agama periode 1948-1950 dan 1953-1955. Berasal dari daerah Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Saya mengenal Kiai Helmy, tiga tahun sebelum Ponpes Ummul Quro berdiri. Pada 1991-1994 atau 3 tahun terakhir tugasnya sebagai pimpinan Ponpes Daarul Rahman II, saya sebagai santrinya.
Interaksi dengan Kiai Helmy terus terbangun hingga beliau mendirikan Ponpes UQI pada 1993. Diikat oleh pertemanan dengan keponakannya, sebagai rekan satu kelas di Daarul Rahman. Lalu tiga adik kandung dan belasan orang kerabat saya menjadi santri UQI.
Karenanya, saya mengikuti getir pahit sejarah pendirian pesantren ini, evolusi bertahap hingga transformasinya menjadi salah satu institusi pendidikan Islam terkemuka di Kabupaten Bogor, seperti yang hari ini kita saksikan.
Kobong Triplek: Dari Ruang Kelas hingga Kamar Tidur
Tahun-tahun awal pendirian Ponpes UQI sebagai waktu yang sangat berat bagi Kiai Helmy dan keluarga. Keterbatasan dana membuatnya kesulitan menutupi kebutuhan operasional pesantren yang sangat tinggi.
Ibaratnya besar pasak dari tiang. Kebutuhan yang dihadapi untuk pengembangan UQI tidak seimbang dengan kemampuan donasi. Sumber dan pemasukan dana sangat terbatas.
Kiai Helmy menerapkan kebijakan pengetatan iket pinggang. Operasional pesantren berjalan penuh keterbatasan. Begitu pula dengan pengadaan fasilitas santri, baik kamar maupun ruang kelas, disesuaikan kemampuan kas.
Terkecuali masjid, dibangun secara permanen dan representatif. Saat puluhan santri generasi awal datang tidak ada kendala berarti. Hingga beberapa tahun perjalanan pesantren, masjid masih bisa menampung aktivitas santri, baik putra maupun putri.
Namun untuk fasilitas ruang kelas dan ruang tidur santri, dibangun penuh keterbatasan. Dibangun dari bahan triplek dan kayu. Sempat menjadi semacam sindirin dan candaan ala santri kala itu.
Santri baru yang hendak mondok seolah tidak menjadikan UQI sebagai rujukan, bahkan enggan mondok di sini, dengan alasan keterbatasan fasilitas.
Namun roda kehidupan berputar. Seiring berjalannya waktu, Ponpes UQI terus berbenah. Pertumbuhan UQI terbilang sangat sehat dan pesat. Bahkan cenderung akselaratif, pencapaian melampaui ekspektasi.
Kiai Helmy Siap Dipenjara Demi Ummul Quro
Cerita pengembangan sebuah pondok pesantren selalu mengisahkan aksi heroik dari kiai pendirinya. Begitu pula dengan Ponpes UQI. Kiai Helmy harus jatuh bangun. Ia berjibaku demi memastikan pembangunan Pesantren UQI berjalan dengan baik, on the track.
Dalam banyak kesempatan perjumpaan dengan saya, Kiai Helmy kerap menyampaikan curahan hatinya, suka duka merintis Ummul Quro. Menurutnya, dalam beberapa kesempatan ia kerap kesulitan memenuhi tingginya kebutuhan biaya pembangunan sarana fisik, sehingga memaksanya berhutang atau pinjem barang ke material.

“Kadang saat kesulitan bayar bon tagihan material, saya suka bilang kalau saya tidak mampu bayar, silahkan dipenjara. Mau gimana lagi, kalau pas ditagih terus nggak ada uang sementara dari pihak material terus menuntut. Saya hanya bisa pasrah,” kata Kiai Helmy suatu ketika.
Bagi Kiai Helmy, sikap pasrah tersebut bukan sebagai bentuk kelemahan, namun sebagai bentuk totalitas ikhtiar dan tawakkal. “Kita sudah berusaha, kita juga bermunajat meminta pertolongan Allah. Ketika semua jalan ikhtiar sudah ditempuh, kita harus tawakkal. Dalam ketawakalan itu timbul pertolongan dari Allah,” ujarnya.
Transformasi Institusi Penidikan Islam Terkemuka di Kabupaten Bogor
Bila ada kajian atau pemberian award terhadap pengelolaan pesantren yang dilakukan berdasarkan meritrokrasi system dan keterbatasan modal pegembangan saat pendirian, nama Pesantren Ummul Quro Al-Islami layak dimasukkan sebagai nominator utama.
Pesantren ini betul-betul tumbuh dari kesederhanaan, keterbatasan, dan kemandirian. Satu hal yang pasti, Pesantren Ummul Quro Al-Islami dibangun berdasarkan meritrokrasi system. Maksudnya dibangun berdasarkan visi dan kekuatan lembaga.
“Saya membangun Ummul Quro dengan modal pas-pasan. Hasil mengumpulkan honor guru selama bertahun-tahun mengabdi di Daarul Rahman. Tidak seberapa. Selebihnya saya mengetuk satu per satu rumah orang kaya di Jakarta,” ungkap Kiai Helmy saat berjumpa dengan penulis.

Keterbatasan dana yang dihadapi tidak membuat Kiai Helmy berkecil hati. Ia justru belajar dari kesederhanaan, dengan mengandalkan prestasi, kemampuan, kompetensi dan integitas lembaga dalam memompa laju pesantren. Meritrokasi system menjadi kekuatan utama. Pertumbuhan Ummul Quro sangat sehat dan berkelanjutan.
Maka tidak heran, dalam kurun sekitar 30 tahun setelah didirikan Pesantren Ummul Quro telah bertransformasi sebagai intsitusi Pendidikan terkemuka di Kabupaten Bogor. Unit pendidikannya komplet, mulai jenjang MTs, dan MA berbasis pesantren hingga perguruan tinggi.
Di Kabupaten Bogor, dari ribuan pesantren yang ada, hanya Ummul Quro Al-Islami yang memiliki perguruan tinggi kaliber Universitas. Hal ini menunjukkan keunggulan UQI sebagai institusi pendidikan Islam yang disegani di Bogor.
Rais Syuriyah PCNU Ajengan Diding Sirojudin Ajak Nahdliyyin Hijaukan UQI
Dengan berbagai track record dan atribut yang dimiliki, sangat masuk akal bila Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor memilih Ponpes Ummul Quro Al-Islami sebagai lokasi kirab Resolusi Jihad dan upacara Hari Santri Nasional (HSN), Kamis (22/10/2026).
Ketua PCNU Kabupaten Bogor, Abdul Somad berharap, kegiatan HSN di Ponpes Ummul Quro dapat menjadi tonggak penting bagi kebangkitan NU.
“Kita akan menata dan membenahi struktur NU scara menyeluruh, agar lebih sehat dan dapat berlari dalam kerangka kerja organisasi yang lebih baik dan profesional ke depan,” ujar Somad.

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Mama Ajengan Diding Sirojudin menyerukan semua kader Nahdliyyin bersatu, solid dan kompak. Kirab Resolusi Jihad dan HSN diharapkan menjadi awal kabngkitan NU Kabupaten Bogor.
“Mari kita berbondong-bondong mengikuti Kirab Reolusi Jihad dan upacara Hari Santri Nasional. Kita Hijaukan Ponpes Ummul Quro Al-Islami dengan bendera dan seragam kebesaran NU,” beber Mama Ajengan Diding. (*)
