Ketika Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, KH Romdhon Tiba-tiba Mengundurkan Diri (Bagian ke-3 – Habis)

Oleh Ahmad Fahir, S.Ag., M.Si, Wakil Katib 1 Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor

Sebelum dinamika politik internal Syuriah PCNU Kabupaten Bogor menyeruak, menyusul pengunduran diri secara terbuka Kiai Romdhon dari jabatan Rais Syuriyah, mungkin nama Mama Ajengan Diding Sirojudin belum terlalu dikenal di kalangan Nahdliyyin Bogor.

Begitu pun akses informasi saya boleh dibilang cukup terbatas. Keterbatasan informasi tersebut sempat menjadi tanda tanya mengenai kesiapan dan kemampuan leadership Ajengan Diding untuk memimpin panggung Syuriyah sekelas PCNU Kabupaten Bogor. Namun keraguan, yang kadang timbul dari luar dan lebih didominasi faktor politis akibat adanya kompetisi sengit, hilang ditelan bumi seiring berjalannya waktu.

Alam akan selalu melakukan seleksi dengan baik. Siapapun yang Allah persiapkan untuk tampil sebagai pemimpin dalam skala apapun, akan selalu diseleksi secara ketat melalui mekanisme alam. Hal sama berlaku bagi Mama Ajengan Diding Sirojudin.

Dipromosikan Mimbar Istisqo dan Diberkahi Guyuran Hujan

Atas rahmat Allah, hanya berselang dua hari sebelum digelar pleno Syuriyah PCNU, pada Jumat (18/9/2026), alam seolah memberikan kode, bahwa Ajengan Diding mumpuni untuk diusung sebagai the next Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, yang mengemban amanah dari 20 September 2026 hingga akhir 2030.

Mimbar salat istisqo yang dielenggarakan oleh PCNU Kabupaten Bogor bersama Pemkab Bogor, seolah menjadi wahana promosi keulamaan, kezuhudan dan ketajaman doa Ajengan Diding. Didapuk sebagai imam salat dan pemimpin munajat istisqo pada Jumat pagi, sekitar jam 09.30, Ajengan Diding mendapatkan ‘momentum’ emas.

Hanya berselang dua jam setelah istisqo, sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor diguyur hujan Jumat siang, sore hingga malam hari. Bahkan hujan yang mengguyur kawasan perkantoran Pemkab Bogor terbilang berinstensitas tinggi.

Durasi jarak waktu yang sangat pendek antara pelaksanaan Istisqo dengan turunnya hujan di seantero Bogor serta fakta sudah berbulan-bulan bumi Pakuan Pajajaran dilanda kemarau ekstrem, sulit untuk tidak menyebut munajat Istisqo tersebut mustajabah. Cespleng. Saciduh metu saucap nyata, meminjam istilah para sepuh.

Begitulah sunnatullah jika sudah berlangsung, Allah akan menggerakkan alam bekerja, untuk memberian jalan kepada siapapun hambanya yang dikehendaki untuk berkhidmat pada medan pengabdian tertenu.

Panggung Politik Nasional Pileg DPR RI

Ajengan Diding Sirojudin adalah ulama multi talenta. Bukan hanya pandai mengaji atau mengisi kegiatan tabligh, namun juga memiliki rekam jejak panjang pada dunia penyelenggaraan pemilu hingga partai politik. Hal ini berarti ia memiliki kualitas kepemimpinan yang berlimpah, untuk diartikulasikan dalam khidmat sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor.

Mama Diding memiliki pengalaman teknis penyelenggaraan Pemilu, yaitu sebagai Wakil Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Cigudeh tahun 2005-2009.

Pengalaman memimpin PPK Kecamatan Cigudeg menjadi bekal penting Ajengan Diding terjun ke politik praktis. Pada Pemilu 2009 ia dilamar Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), sebuah parpol yang kelahirannya dibidani oleh keluarga Cendana, untuk menjadi Caleg.

Kesempatan tersebut diterimanya secara terbuka. Ajengan Diding tidak memiliki keraguan saat diminta menjadi Caleg Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Maka pada Pemilu 2009 ia pun berlayar menuju Pileg DPR RI dengan perahu PKPB.

Ajengan Diding meraih suara yang terbilang tinggi, mencapai belasan ribu suara se-Kabupaten Bogor, yang dikategorikan sebagai Dapil Jawa Barat V. Perolehan suara tersebut terbilang tinggi, mengingat PKPB bukan partai parlemen. Tidak memiliki fraksi di DPR RI.

Sebagai perbandingan, pada Pemilu 2009, saya memiliki seorang senior, bernama Kang Otong Abdurrahman. Caleg DPR RI dari PKB Dapil Jabar III Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur. Dengan modal suara pribadi Caleg hanya 7.133 Kang Otong yang asal Garut, terpilih sebagai Anggota DPR RI. Ia melenggang ke Senayan dengan modal suara prbadi terkecil.

Menjadi Rais Syuriyah PCNU 2026-2030

Pergulatan politik nasional Pemilu 2009 sebagai Caleg DPR RI menjadi pengalaman langsung Ajengan Diding makan asama garam politik. Ketidakberuntungan dalam Pemili tidak membuanya kecewa. Justru menjadi pengalaman penting.

Maka pada 2010, ia memasuki dunia gerakan keislaman, dengan menjadi Ketua Satkar Ulama dan Kamtibmas Kecamatan Cigudeg tahun 2010-2015.

Keterlibatan menjadi Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) periode 1995-2000, sebagai pengalaman berharga mengelola organisasi satkar ulama.

Karir organisasi Ajengan Diding kian moncer setalah pada tahun 2019 terpilih sebagai Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Cigudeg. Setahun berikutnya, penasehat Muflihun Tour and Travel, Serang, Banten ini terpilih sebagai Ketua MUI Kecamatan Cigudeg periode 2020-2025.

Selanjutnya, pada Mei 2025, takdir mengantarkan Ajengan Diding menjadi Wakil Rais Syuriyah I PCNU Kabupaten Bogor periode 2025-2030. Ia masuk dalam gerbong Kang Doni, Rais Syuriyah yang memilih mengundurkan diri.

Hanya berselang setahun setengah setelah didapuk sebagai Wakil Rais Syuriyah I PCNU, Ajengan Diding mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor. Ia akan menakhodai Syuriyah PCNU hingga akhir masa jabatan pada Desember 2030. (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *