Ketika Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, KH Romdhon Tiba-tiba Mengundurkan Diri (Bagian ke-2 dari 3 Tulisan)
Oleh Ahmad Fahir, S.Ag., M.Si., Wakil Katib 1 Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor
Mundurnya Kiai Romdhon dalam kacamata organisasi sebagai fenomena biasa. Apalagi ini adalah NU, organisasi massa Islam terbesar di Kabupaten Bogor. Pengunduran diri seorang rais Syuriyah dengan mudah digantikan yang lain, karena banyaknya stok kader mumpuni.
Beberapa hari setelah berita mundurnya Kiai Romdhon dari Rais Syuriyah PCNU viral, dua minggu sebelum pleno Syuriyah yang dilangsungkan pada Ahad (20/9/2026) saya sudah menyebut, Ajengan Diding lebih dari siap untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Syuriyah.

Di jajaran Syuriyah PCNU, saya orang yang pertama menyebutkan dan mendukung penuh figur Ajengan Diding untuk didaaulat sebagai Rais selanjutnya. Tanpa keraguan. Mengingat situasi darurat kepastian sosok yang tepat untuk menjadi nakhoda baru Syuriyah PCNU, menggantikan Kiai Romdhon yang sudah mengundurkan diri pada 3 Septrember 2026.
Syuriyah adalah entitas ulama, yang memandu jalannya kepengurusan eksekutif NU. Kriteria-kriteria kepemimpinan ulama tersebut ada pada sosok Ajengan Diding, sebagai ulama yang memiliki kapasitas ilmu agama mumpuni.
Ajengan Diding Sirojudin malang melintang digembleng dalam pengembaraan intelektual. Ia digembleng secara ketat dalam Pendidikan pesantren khas NU oleh lingkungan kluarga kiai.
Secara pribadi, saya mengenal Ajengan Diding sejak satu setengah tahun lalu. Waktu yang cukup untuk memberikan pernilaian objektif pada sosok, kapasitas leadership, kemampuan berkolaborasi dengan para pihak serta visi yang diusung.
Dukungan penuh yang saya berikan bukan hanya soal urut kacang, untuk kebaikan bersama. Biasanya bila terjadi peristiwa seperti ini dalam sebuah organisasi, lalu Amanah diserahkan tidak sesuai mekanisme dan melabrak urut kacang, akan kacau balau dan konflik berkepanjangan.
Trah Raja Pajajaran dan Ulama Besar Sunda
Ajengan Diding lahir dan tinggal di salah satu lingkungan yang memiliki warna religiusitas kuat, Desa Bunar. Satu dari 15 desa di Kecamatan Cigudeg, yang bebatasan langsung dengan Desa Kalongsawah, Kecamatan Jasinga, dikenal sebagai desa santri.
Mama Ajengan Diding Sirojudin adalah pengasuh Pondok Pesantren Riyadush Sholihin, Kampung Lawang Taji, RT 001/ RW 001, Desa Bunar. Sebagaimana kebanyakan pesantren di bagian barat Kabupaten Bogor, Riyadush Solihin terletak di pinggir Sungai Cidurian.
Ajengan Diding merupakan kerabat dekat Mama Ajengan Sirojudin Jazuli, pengasuh Pesantren Manbaul Ulum, Desa Bunar. Ulama khos Kabupaten Bogor. Memiliki banyak santri dari kalangan yatim dan pengamal thorikoh. Saya menjadi santri persulukan Ajengan Sirojudin Jazuli sejak 2005, saat masih bekerja sebagai reporter surat kabar harian di Bogor.

Dari penelusuran yang saya lakukan, pengasuh dan pendiri Pesantren Manbaul Ulum keturunan langsung dari ulama besar Bogor, Syaikh Muhidin, Parung Sapi, Jasinga. Makamnya termasuk yang paling ramai diziarahi di bilangan barat Kabupaten Bogor.
Mbah Muhidin adalah putra Mbah Ubang. Dari garis ayah, Mbah Ubang keturunan menak Sumedang, trah Prabu Geusan Ulung, Maharaja Sunda Sumedang Larang. Sedangkan dari garis ibu keturunan Sultan Banten, Maulana Hasanudin.
Prabu Geusan Ulun, maharaja Sunda Sumedang Larang maupun Maulana Hasanudin, sultan munggaran Banten merupakan keturunan Raja Pakuan Pajajaran Bogor, Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.
Pengembaraan Intelektual dari Bunar hingga Galuh
Ajengan Diding lahir di Desa Bnnar, 2 April 1968.Selepas SD, ia malanag mengeyam dunia pendidikan pesantren. Sekitar 10 pesantren menjadi ladang pengembaraan ilmunya.
Memulai dari Pesantren Manbaul Ulum, yang dikelola oleh kerabatnya, Ajengan Sirojudin Jazuli, pada tahun 1979-1981. Para salikin, santri dan murid menyebut Ajengan Siroj dengan sapaan khas yang lebih akrab, Aa.
Lalu melanjutkan kePondok Pesantren Riyadul Muta’allimin, Muncang Raya, Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, tahun 1981-1985. Pada 1985-1987, melanjutkan ke Pondok Pesantren Riyadul Alfiyah, Gunung Sodong, Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Pada tahun 1987, ia juga menimba ilmu di Pondok Pesantren KH Mamad Jamul, Cikoneng, Cihaur Beuti, Kabupaten Ciamis. Tahun yang sama hingga 1988, menempuh pendidikan di Pesantren Al-Wardayani, Warudoyong, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Pada tahun 1988-1989, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Miftahul Huda pimpinan Mama Ruyani, Cihideung, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.
Mama Ruyani adalah ayah mertua KH Hasbullah Al-Haf, pengasuh Pesantren Al-Fatah, Kecamatan Ciomas. Kakek kandung dari Pengasuh Pondok Pesantren Arruhama, Ciomas, yang juga Wakil Rais Syuriyah III PCNU Kabupaten Bogor, KH Asep Saeful Millah.
Pada 1989-1990, ngaji di Pesantren Riyadul Alfiyah (Mama Sanja), Kadukawung, Pandeglang, Banten. Lalu belajar di Pesantren KH Abad Badrudin, Cangkudu, Kabupaten Serang, Banten. Kemudian, ngaji di Mama Dulhadi, Liud, Nanggung, Kabupaten Bogor.
Pengembaraan pamungkas Ajengan Diding dalam menggali ilmu berlangsung di kawasan yang pada masa silam sebagai bagian utama Kerajaan Galuh, yaitu Ciamis. Tepatnya di Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyah, Cihaur Beuti, Cikole, Kabupaten Ciamis. (*)
