BOGOR, KABUYUTAN.com – Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH, Jumat sore (16/1/2026) menghadiri Haul Kubro Karuhun Bojong Kaum, yang dipusatkan di makam Raden Santri Wijaya Kusumah, Keramat Pasarean, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.

Sejumah karuhun sepuh Sunda diperingati haulnya dalam kegiatan ini, yakni Raden Santri Wijaya Kusumah, selaku sesepuh Bojong Kaum, ayahnya Dalem Wiratanudatar VII, R. Abas Suria Nata Kusumah, Pangeran Kornel Kusumahdinata IX Sumedang, Kanjeng Dalem Cikundul, Syaikh Wangsa Goparana, Pangeran Santri Sayyid Maulana Soleh, Sumedang, dan Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, Kota Bogor.

Kegiatan Haul Kubro Karuhun Keramat Pasarean Bojong Kaum dirangkai dengan penutupan zikir bulan Rajab Majelis Sholawat wal Manaqib At-Tawassuth dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 tahun NU menurut kalender Hijriah (16 Rajab 1344-1447 H).

Selain itu, kegiatan tersebut juga dijadikan sebagai wahana istigotsah dan doa bersama untuk keselamatan alam tatar Sunda dan Indonesia dari berbagai bentuk bencana, dengan pembacaan Manaqib Tuanku Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA, khataman kitab An-Nurul Burhany.

MENJAGA WARISAN SEJARAH: Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH, didampingi Wakil Rais Syuriyah PCNU, KH Saepul Milah, S.Ag, memberikan tausiah mengenai keberpihakan NU dalam menjaga warisan budaya dan sejarah, di Keramat Pasarean Raden Santri Wijaya Kusumah, Bojong Kaum, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Jumat (16/1/2026).

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh NU, antara lain Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH, Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, KH Saepul Milah, S.Ag., dan Wakil Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Ustad Ahmad Fahir.

Selanjutnya, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Gunungputri, KH Abas, Ketua Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Kabupaten Bogor, KH Baejuri, Sekretaris MA IPNU Kabupaten Bogor, Ustad Suhendra, Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Kemang, Ustad Ahmadi, dan Ketua Pengurus Ranting NU Desa Bojong, Ustad Darmawan.

Perhelatan kubro ini dihadiri 100 orang jamaah, yang berasal dari Desa Bojong dan berbagai daerah lain di Kabupaten Bogor, dengan mengangkat tema “Urgensi Menyambung Silsilah Genetika dan Merawat Warisan Perjuangan Karuhun Sunda dalam Melestarikan Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah.”

Rangkaian kegiatan Haul Kubro Karuhun Bojong Kaum, penutupan zikir Rajab, khataman Manaqib Tuanku Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA, doa keselamatan alam dan ziarah bersama ke makam Raden Santri Wijaya Kusumah dipandu Ustad Ahmad Fahir selaku tuan rumah dan ketua panitia pelaksana kegiatan.

Sedangkan tausiah keutamaan bulan Rajab dan refleksi peringatan hari lahir 103 tahun Nahdlatul Ulama, disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH, dan Wakil Rais Syuriyah PCNU, KH. Saepul Milah, S.Ag.

URANG BOGOR HARUS CINTA KARUHUN: Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, KH Saepul Milah, S.Ag (sebelah kanan), mengajak orang Sunda Bogor agar menyambung silsilah genetika dengan merawat sanad nasab hingga Prabu Siliwangi.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Fahir selaku penggagas kegiatan dan mewakili seuweu siwi Raden Santri Wijaya Kusumah, memberikan Kiai Romdhon tanda mata berupa Totopong Pakuan Pajajaran alias iket kepala khas Sunda Bogor.

Pemberian totopong tersebut, kata Ahmad Fahir, sebagai bentuk pelestarian budaya Sunda Bogor. Pasalnya, Raden Santri merupakan rundayan keturunan langsung maharaja Sunda Pakuan Pajajaran Bogor, Prabu Siliwangi, yang bertahta pada 1482-1521.

“Baik dari garis ayah maupun ibu, Uyut Raden Santri Wijaya Kusumah adalah keturunan maharaja Sunda Pakuan Pajajaran, Prabu Siliwangi,” tegas ketua umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Bogor periode 2000-2002 ini.

Ia melanjutkan, “Dari garis ayah, Uyut Raden Santri merupakan keturunan Kanjeng Dalem Cikundul putra Syaikh Wangsa Goparana Subang, cucu Raja Talaga, Majalengka. Mata rantai nasab garis ayah, semua garis laki-laki hingga Prabu Mundingsari Ageung, putra Prabu Siliwangi dari garis istri pertama, Nyi Mas Ambet Kasih, Kerajaan Talaga.”

Adapun dari garis ibu, Raden Santri merupakan putra Nyi R. Raja Purnama, cucu Pangeran Kornel Sumedang, cicit Maharaja Sunda Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

TOTOPONG SUNDA PAKUAN PAJAJARAN: Ahmad Fahir selaku panitia kegiatan haul Raden Santri Wijaya Kusumah memberikan tanda mata iket keapala Sunda alias totopong Pajajaran kepada Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH.

Selain itu, pemberian totopong Sunda juga sebagai bentuk harapan, agar PCNU Kabupaten Bogor menaruh perhatian besar pada penguatan budaya di bumi Prabu Siliwangi Bogor, melalui pelestarian kearifan lokal dan pengembangan warisan nilai adiluhung peninggalan karuhun Sunda yang sejalan dengan visi Nahdlatul Ulama.

Seusai kegiatan dan penyerahan Totopong Sunda, Kiai Romdhon menyambangi dan berwudhu di mata air keramat Cikahuripan peninggalan Raden Santri Wijaya Kusumah, yang letaknya 100 meter dari makam.

“Mata air Cikahurupan bersumber dari areal makam keramat Raden Santri. Selalu mengalir deras, tidak pernah kering, walaupun musim kemarau. Padahal di sekitarnya tidak banyak vegetasi alam atau areal hutan yang luas,” ungkapnya.

Selanjutnya, ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bogor periode 2009-2019 ini berziarah ke makam Raden Santri, sebagai penutup rangkaian kegiatan. (Rusmana)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *