KABUYUTAN.com, Bogor – Masyarakat Kabupaten Bogor sudah “pareum obor” alias kurang memiliki ikatan batin yang kuat dengan leluhurnya. Jarang yang memiliki pemahaman silsilah genetika secara lengkap hingga tujuh generasi ke atas, terlebih hingga Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, raja Sunda Pakuan Pajajaran, yang notbene sebagai leluhurnya urang Bogor.

Oleh karena itu, Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Humaira yang terletak di Kampung Parakan Jati, Desa Susukan, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (22/11/2025) menggagas program seharian Nyunda bertajuk Ngamumule Budaya Sunda.”

Kegiatan ini diikuti 400 orang siswa, yang dibagi dalam dua sesi. Kelas 1-3 sebanyak 200 orang pada sesi 1, dan siswa kelas 4-6 sebanyak 200 anak pada sesi II.

Suasana pelaksanaan kegaiatan “Ngamumule Budaya Sunda” MIS Humaira, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Sabtu (22/11/2025).

Perhelatan akbar ini menghadirkan Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa (SLW), Bogor, Ahmad Fahir sebagai nara sumber.

Dalam pemaparannya, Ahmad Fahir mengemukakan, Bogor adalah ibu kandung peradaban, bukan hanya Sunda namun juga Nusantara, bahkan dunia. Pada masa lalu Bogor adalah situs bersejarah yang memiliki peran besar dalam tata kehidupan global.

Dipersempit pada era Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, dengan Rajanya Prabu Siliwangi, adalah puncak keemasan Sunda. Kerajaan Pajajaran dikenal luas hingga mancanegara, sebagai bangsa besar yang tidak hanya maju tapi juga adil dan bijaksana.

Menurut Fahir, pegiat budaya Sunda yang memprakarsai Napak Tilas Prabu Siliwangi Long March dari Eks Keraton Pakuan Pajajaran di Batutulis ke Situs Keramat Badigul Rancamaya, Kota Bogor pada 2017, Prabu Siliwangi adalah leluhurnya urang Bogor.

Ketua Bidang Infokom Sunda Langgeng Wisesa, Ahmad Fahir, menyampaikan pemaparan mengenai sejarah Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran Bogor dan Sosok Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi di hadapan 400 orang siswa MIS Humaira,.

“Urang Bogor umumnya pareum obor pada leluhurnya. Namun bila silsilah genetikanya dibuka atau ditelusuri, terhubung dengan Prabu Siliwangi, Raja Sunda Bogor tahun 1482-1521” ujarnya.

Ditegaskannya, urang Bogor adalah keturunan Prabu Siliwangi dan pewaris utama tahta Kemaharajaan Sunda Pajajaran.

“Penting mengetahui sislilah genetika leluhur, sebagai bagian dari pengetahuan terhadap jati diri. Kata para ulama ahli makrifat, orang yang tahu jati dirinya akan lebih mengenal tuhannya,” ungkap Fahir.

Kalau kita mengenal silsilah genetika, akan memiliki rasa memiliki budaya dan bahasa Sunda serta tanggung jawab sosial di tengah masyarakat. Ada inspirasi untuk menjaga dan melestarikan warisan kebaikan dan nilai-nilai adiluhung yang diwariskan Prabu Siliwangi dan para leluhur Sunda.

Kepala MIS Humaira, Gus Tauhid (paling kiri) berfoses bersama para siswa pemenang lomba penggunaan busana adat Sunda

Sementara itu, Kepala MIS Humaira, Gus Tauhid kepada Kabuyutan Online mengatakan, kegiatan Ngamumule Budaya Sunda digagas untuk merespons kerinduan para siswa dan orang tua siswa terhadap bahasa dan budaya Sunda serta sosok Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi.

“Kegiatan ini baru dilaksanakan perdana. Alhamdulillah respons dari para guru, siswa dan orang tua luar biasa. Sangat antusias,” kata Tauhid.

Antusiasme tersebut ditunjukkan dengan kekompakan para siswa dan siswi mengenakan pakaian adat Sunda. Dari 400 anak, 100% mengenakan atribut khas Sunda Bogor.

“Padahal pengumuman menjelang hari H acara hanya 2 hari, namun semua siswa saat pelaksanaan mengenakan pakain adat khas Bogor. Menunjukkan semangat dan ketertarikan besar untuk ngamumule budaya Sunda, sebagai warisan bersama leluhur kita,” paparnya.

Gus Tauhud bersama nara sumber, Ahmad Fahir dan para panitia pelaksana Ngamumule Budaya Sunda

MIS Humaira akan terus berupaya menenamkan pelajaran bahasa dan budaya Sunda kepada para peserta didik melalui berbagai kemasan kegiatan. Hal tersebut dilakukan agar semangat, rasa memiliki dan kecintaan pada budaya Sunda terus terpupuk di benak mereka.

Dalam waktu dekat, terang Tauhid, MIS Humaira berencana membawa para peserta didik untuk mengunjungi situs bersejarah peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang berada di Bogor.

“Insya Allah kami akan mengunjungi Situs Prasasti Batutulis dan tapak Kaki Raja Pajajaran Prabu Surawisesa maupun situs peninggalan Kerajaan Sunda lainnya yang ada di Bogor,” katanya.

Dengan melakukan studi lapang dan melihat dari dekat warisan peninggalan para leluhur Bogor, diharapkan menjadi wahana edukasi efektif, agar para siswa semakin memiliki pengetahuan dan ketertarikan dalam menjaga warisan budaya Sunda di tanah pusaka penuh legenda.

Rusmana

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *