Bogor, KABUYUTAN.com – Bercocok tanam atau Bertani bukan sekedar urusan ekonomi untuk meraih hasil panen terbaik. Bertani lebih dari sekadar urusan meraih pundi ekonomi. Bertani memiliki nilai ibadah tinggi. Pertanian sarat nilai sedekah pada mahluk hidup dan lingkungan serta mengandung nilai luhur taihid pada sang pencipta.
Demikian diutarakan oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Masturiah, Sukabumi, Dr. KH Abubakar Sidik, M.Ag saat menjadi narasumber di Halaqah Ketahanan Pangan dan Ekologi Lingkungan: Pesantren Poros Peradaban Hijau, yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, di Bandung, Rabu (29/10/2025).
Kiai Abubakar Sidik mengatakan, bertani bukan sekadar urusan ekonomi untukk meriah keuntungan dalam usaha, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang sarat nilai kehidupan. Pertanian bukan hanya menghiudupkan petani, tapi juga banyak mahluk hidup, lingkungan aau alam.
“Sekali menanam padi, bukan hanya padi yang hidup, tapi juga belut, serangga, burung, dan semua makhluk Allah ikut hidup. Barang siapa menghidupkan makhluk Allah, Allah akan menghidupkan dia,” tegas Wakil Ketua PWNU Provinsi Jawa Barat ini.
Dikemukakannya, karena pertanian amat bergantung pada alam dan cuaca, kalau gagal panen petani jarang marah. Namun justru bersandar pada Allah SWT.
“Ini takdir Gusti Allah. Karena yang menumbuhkan dan mematikan hanyalah Allah,” tambahnya.
Praktik Pertanian Modern Abaikan Keseimbangan dan Kelestarian Alam
Namun, Kiai Abubakar juga menyoroti praktik pertanian modern yang kerap mengabaikan keseimbangan alam. Pertanian modern cenderung mengganggu kelestarian alam.
Dulu papatong (capung), kupu-kupu, dan kunang-kunang masih banyak. Sekarang hilang karena pestisida. “Padahal kalau burung makan padi, itu sedekah,” tuturnya.
Bagi Kiai Abubakar, menanam bukan sekadar mencari hasil ekonomi atau meraih untung dalam usaha, tapi menanam menambah dzikir di muka bumi. Menanam artinya menabmbah semakin banyaknya mahluk hidup yang dihidupkan, yang berarti makin banyaknya yang berdzikir pada Allah SWT.

Halaqah Ketahanan Pangan dan Ekologi Lingkungan PWNU Jabar, Rabu (29/10/2025) sebagai rangkaian puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN).
Halaqah tersebut menghadirkan tiga narasumber utama yakni Ketua STAI Al-Masthuriyah KH Abubakar Sidik, Guru Besar Teknik Lingkungan ITB Edwan Kardena dan Ketua HKTI Jawa Barat Diyan Anggraini.
Ahmad Fahir
