BOGOR, KABUYUTAN.com – Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH, mengajak urang Bogor meneladani perjuangan para karuhun Sunda. Pasalnya karuhun Sunda selalu mendedikasikan energi dan hidupnya untuk kepentingan masyarakat luas.

“Karuhun Sunda selalu berjuang untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat. Selalu berjuang untuk agama, bangsa dan negara,” kata Kiai Romdhon saat menghadiri Zikir Rajab, Harlah 103 Tahun NU dan Haul Kubro Karuhun Keramat Pasarean Bojong Kaum, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat (16/1/2026).

Sejumlah karuhun Sunda diperingati haulnya, yaitu Raden Santri Wijaya Kusumah, sesepuh Bojong Kaum, ayahnya Dalem Wiratanudatar VII, R. Abas Suria Nata Kusumah, Pangeran Kornel Kusumahdinata IX Sumedang, Dalem Aria Wiratanu Cikundul, Syaikh Aria Wangsa Goparana, Subang, Pangeran Santri Sayyid Maulana Soleh, Sumedang, dan Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, Kota Bogor.

KARUHUN URANG BOGOR: Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, raja Sunda Pakuan Pajajaran yang bertahta di Batutulis, Kota Bogor pada 1482-1521, akar leluhur dan silsilah genetika Sunda. Berdasarkan naskah Prasasti Batutulis, sang prabu wafat di Bogor akhir Desember 1521.

Perhelatan akbar yang diprakarsai Majelis Zikir Sholawat Wal Manaqib At-Tawassuth, Desa Bojong ini dihadiri 100 orang jamaah, dan mengangkat tema “Urgensi Menyambung Silsilah Genetika dan Merawat Warisan Perjuangan Karuhun Sunda dalam Melestarikan Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah.”

Pengasuh Pondok Pesantren Yasina, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor ini mengungkapkan, Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, raja Sunda Pakuan Pajajaran Bogor telah memberikan teladan sangat baik melalui kepemimpinan yang adil, benar dan bijaksana.

Di bawah kepemimpinan sang raja, masyarakat Pakuan Bogor hidup sejahtera dan makmur. Kepemimpinan sang raja hingga saat ini menjadi rujukan ideal bangsa Indonesia. Sejak abad 15, para ilmuwan dan pengamat asing pun mengakui Prabu Siliwangi sebagai pemimpin besar Nusantara yang selalu bekerja untuk rakyat.

WALI BESAR SUNDA: Syaikh Aria Wangsa Goparana (ayah Kanjeng Dalem Cikundul), Keramat Nangka Beurit, Sagala Herang, Kabupaten Subang, keturunan generasi ke-5 Prabu Siliwangi dari garis Kerajaan Talaga. Ia menurunkan para ulama besar dan pemimpin penting di tanah Sunda.

Lebih lanjut Kiai Romdhon berujar, dirinya suka menziarahi karuhun Sunda yang dihauli di Keramat Pasarean Bojong Kaum, antara lain Syaikh Wangsa Goparana, Kanjeng Dalem Aria Wiratanu Cikundul, Cianjur, dan Prabu Geusan Ulun, Sumedang.

“Nahdlatul Ulama meneladani warisan perjuangan  Syaikh Wangsa Goparana Subang, Kanjeng Dalem Cikundul, dan Raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun. Beliau semua selalu berjuang untuk agama, bangsa dan negara,” ujar Kiai Romdhon.

Syaikh Wangsa Goparana dan Prabu Geusan Ulun, tegas alumni Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya ini, melahirkan para pemimpin dan ulama besar di tanah Sunda.

KERAMAT DAYEUH LUHUR: Makam Raja Sunda Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, di Keramat Dayeuh Luhur, Ganeas, Kabupaten Sumedang. Selain sebagai raja Sunda, ia adalah penyebar Islam di wilayah tatar Sumedang, yang mencakup Sumedang hari ini dan Priangan Timur.

Islam dengan manhaj ahlussunnah wal jamaah yang dianut mayoritas warga Jawa Barat bertransformasi sebagai agama mayoritas, sebagai warisan besar perjuangan para karuhun Sunda.

“Kita harus merawat warisan niilai dan meneladani perjuangan yang telah ditunjukkan oleh para orang tua kita, para karuhun Sunda.

Oleh karena itu, kita harus mengenal karuhun sendiri, agar sanad dan silsilah nasabnya nyambung dengan para karuhun sepuh. Jangan sampai karuhun orang lain kenal dan dimuliakan, sedangkan dengan karuhun sendiri mati obor dan tidak peduli. (Ahmad Fahir)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *