Cibinong, KABUYUTAN.com – Masjid Al-‘Atiqiyah Karadenan Kaum merupakan situs penting yang menyimpan banyak rekaman dan file Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Masjid ini situs bersejarah berusia hampir 500 tahun, memiliki banyak keunggulan yang tidak ditemukan di lokasi lainnya.

Pada Kamis (1/1/2026), mengawali kalender tahun baru, saya menyambangi masjid bersejarah ini. Di Masjid Karadenan Kaum, saya ditemui kasepuhan setempat yang juga Kepala Pengelola Museum Keris, H. R. Dadang Supadma.

Saya mengamati dari dekat berbagai benda peninggalan bersejarah yang terdapat di areal masjid, yang membuatnya unik dan memiliki ciri khas yang sulit ditemukan tempat lain.

Ada sejumlah faktor mengapa masjid ini disebut memiliki keunggulan dan daya tarik kuat. Pertama, lokasi di mana masjid ini berdiri kokoh merupakan situs bersejarah Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang beribukota di Batutulis, Kota Bogor, sekitar 15 KM ke arah selatan.

Pada era keemasan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, yakni dari zaman Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi hingga Prabu Ragamulya Suryakencana, dari 1482 hingga 1579, kawasan Karadenan merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Muara Beres, kerajaan bawahan dan penyangga utama Pakuan Pajajaran.

KARUHUN URANG BOGOR: Sribaduga Maharaja Prabu Siiwangi, raja Pakuan Pajajaran, yang bertahta di Batutulis, Kota Bogor, 1482-1521, merupakan karuhun (leluhur) urang Bogor dan akar leluhur semua ningrat Sunda yang ada di tatar Pasundan.

Dari Kaum Pandak, Karadenan hingga kelurahan Sukahati ke arah utara, terbentang benteng Kerajaan Muara Beres sepanjang 5 KM, yang berdiri kokoh di bantaran Sungai Ciliwung pada abad 15-16 M.

Sayangnya jejak tersebut kini sulit diidentifikasi, karena pemerintah daerah maupun Kementrian Budaya RI belum menjadikan Muara Beres sebagai situs bersejarah yang diakui secara resmi. Banyak jejak peninggalan bersejarah yang punah dimakan usia, karena urang perawatan maupun terdesak laju pembangunan Cibinong sebagai ibu kota Kabupaten Bogor.

Pada era Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, yang mengandalkan Sungai Ciliwung sebagai jalur transportasi utama, Muara Beres merupakan darmaga penting lalu lintas orang dan barang dari Pakuan ke dunia internasional. Muara Beres menghubungkan Pakuan Pajajaran dengan Muara Tanjung Barat, di Jakarta Selatan sebelum mencapai Sunda Kalapa, pelabuhan utama milik Pajajaran yang terletak di perairan pantura Jakarta.

Kedua, masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1550 M, sebagai sarana ibadah bagi sebagian penduduk Pakuan Pajajaran yang sudah memeluk Islam. Menurut sejumlah manuskrip yang diteliti Universitas Pajajaran Bandung, Islam telah masuk Pakuan dari awal era Prabu Siliwangi, pertengahan tahun 1400-an.

“Masjid ini telah mengalami beberapa kali rehab, baik pada era Uyut Rd Syafii maupun dari tahun 1960-an hingga tahun 1990-an sudah berkali-kali direhab,” kata Dadang.

Ketiga, di masjid ini terdapat Museum Keris. Inilah satu-satunya masjid di Bogor yang memiliki museum pusaka. Museum masjid ini menyimpan ratusan koleksi benda pusaka peninggalan Kerajaan Sunda dari era Sunda Galuh, Pakuan Pajajaran, Talaga, Cirebon, Sumedang Larang hingga Banten.

Jenis pusaka yang disimpen Museum Keris antara lain Kujang Pajajaran, Kudi Galuh, Goban Sumedang Larang, Keris Cirebon, Keris Talaga, Golok Banten, badik hingga gong degung.

KUJANG HEUBEUL: Kepala Pengelola Museum Keris Masjid Karadenan Kaum, H. R. Dadang Supadma, menunjukkan Kujang Pajajaran, salah satu pusaka heubeul warisan leluhur Sunda.

“Berbagai puska yang dikoleksi Museum Masjid Karadenan Kaum, yang jumlahnya ratusan buah, bersumber dari warga sekitar. Warga secara sukarela menyerahkan ke pengurus masjid, agar dirawat dan dilestarikan. Karena banyaknya pusaka yang dititipan, pada 2015 kami berinisiatif mendirikan museum khusus. Museum ini bersifat mandiri milik masyarakat Karadenan Kaum,” tegasnya.

Keempat, Masjid Karadenan Kaum memiliki makam keramat tokoh penyebar Islam, yang dapat dijadaikan destinasi ziarah alias wisata religi. Di areal masjid ini terdapat makam Raden Syafi’i, ulama keturunan Pajajaran yang menjadi penyebar Islam di wilayah Cibinong pada akhir abad 17.

Makam Uyut Raden Syafi’i merupakan destinasi utama peziarahan dan wisata religi wilayah Cibinong dan sekitarnya. Setiap hari selalu ada tamu yang datang berziarah. Terlebih pada malam jumat atau hari-hari besar Islam, makam keramat ini selalu ramai dikunjungi masyarakat yang datang dari wilayah Bogor dan sekitarnya.

Kelima, DKM masjid ini juga melestarikan pencak silat dan seni tari Sunda, dengan mengajarkannya pada anak-anak seolah, sebagai ikhtiar merawat warisan budaya tak benda.

Pencak silat maupun group tari Sunda Karadenan Kaum kerap mengikuti kejuaran yang diselenggarakan Pemda Bogor, dan sering keluar sebagai juara.

Keenam, penduduk pribumi Karadenan Kaum merupakan Sunda pituin alias asli urang Bogor, keturunan Prabu Siliwangi dari berbagai trah Kerajaan Sunda. Warga setempat masih menggunakan gelar kebangsawanan Sunda, Raden.

MAHKOTA PRABU SILIWANGI: Museum Keris Karadenan membuat reolika Binokasih, mahkota yang digunakan Prabu Siliwangi dan maharaja Sunda lainnya baik sebelum maupun sesudahnya, sebagai bentuk edukasi pengetahuan.

“Secara turun temurun dari era Uyut Rd Syafi’i atau Pangeran Sanghyang di Jatinegara Kaum, Jakarta, para warga keturunan menggunakan gelar Raden. Ini bukan sebagai bentuk bangga atau sombong, tapi ikhtiar merawat silsilah genetika Prabu Siliwangi. Silsilah DNA harus dijaga, agar tidak pareum obor dan dapat meneruskan kiprah perjuangan para leluhur di tengah masyarakat, dengan merawat nilai-nilai adiluhung yang diwariskan,” papar Dadang.

Ketujuh, warga Karadenan Kaum memiliki silsilah genetika DNA Sunda yang terjaga secara turun temurun. Keterjagaan silsilah genetika tersebut dicirikan tiga faktor, yakni silsilah genetika yang terverifikasi dan tercatat rapi, pelestarian ajaran yang terus terjaga, kepemilikan kitab-kitab kuno hingga pusaka buhun Sunda.

Pada Kamis (1/1/2026), pihak Museum Keris Masjid Karadenan Kaum kedatangan sejumlah tamu dari berbagai wilayah Bogor, yang memiliki kesamaan chemistri dan komitmen untuk melestarikan budaya Sunda dan merawat silsilah genetika Bogor.

“Kami berharap warga Bogor caang obor, faham dengan silsilah genetika leluhurnya. Kami siap membantu bila ada masyarakat yang ingin bertanya mengenai silsilah nasab Sunda. Kalau bukan orang Sunda yang merawat sislilah genetika Prabu Siliwangi dan leluhur Sunda lainnya, lalu siapa yang akan merawatnya?,” ungkap Dadang.

Museum Keris, lanjuta Dadang, sengaja didirikan sebagai edukasi sejarah dan budaya Sunda. Tujuannya agar masyarakat Bogor mengenali sejarahnya, faham leluhurnya, dan mengerti akar budaya dan sejarahnya. Harapannya dapat berkontribusi nyata dalam menjaga bahasa dan budaya Sunda, agar terus bertahan di tengah kehidupan masyarakat Bogor baik hari ini maupun pada masa mendatang. (Laporan Ahmad Fahir)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *