Bogor, KABUYUTAN.COM – Pendiri dan Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU), Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari memiliki sebuah jimat alias pusaka khusus. Jimat tersebut selalu ia gunakan pada setiap kesempatan dan tirakat panjang dalam menghadapi berbagai persoalan krusial keumatan dan kebangsaan.
Jimat pusaka itu selalu ia gunakan dalam tirakat panjang dan perjuangan lahir bathin bertahun-tahun mendirikan jamiyah NU pada tahun 1926, munajat khusus dan istikhoroh proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 maupun dalam menghadapi gonjang ganjing permasasalahan Indonesia dari zaman penjajahan hingga era awal kemerdekaan.
Jimat pusaka dimaksud adalah berupa kumpulan wirid khusus untuk tirakat sosial warga NU dan munajat keselamatan bangsa alias “istigotsah” yang disusun langsung oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
KH Hasyim Asy’ari merupakan seorang ulama besar yang dikenal sebagai ahli hadits, kiai sufi, pengarang sejumlah kitab, pemuka pesantren, maha guru para ulama besar Nusantara, penyusun wirid dan tokoh penggerak perjuangan nasional dalam mengusir penjajah.
Salah satu maha karya perjuangan besar KH Hasyim Asy’ari yang paling dikenang dalam sejarah nasional adalah Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 dan peristiwa 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur, yang menjadi titik balik kemerdekaan Indonesia. Pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2015 menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN).
Hilang Sejak Tahun 1965
Ketua Yayasan Jabal Nur, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Zakariya Amiruddin kepada Kabuyutan Online, Senin (10/11/2025), mengatakan jimat pusaka kumpulan istigotsah yang disusun KH Hasyim Asy’ari telah hilang sejak tahun 1965.
Kumpulan wirid KH Hasyim Asy’ari tersebut popular dengan istilah Istigotsah Hasyimiyah. Meskipun menjadi jimat pusaka andalan sang kiai dalam berbagai perjuangan keumatan dan kebangsaan sepanjang hidupnya, namun wirid ini tidak banyak beredar di umum. Tidak banyak warga NU yang mengetahui apalagi mengamalkannya.
“Istigotsah Hasyimiyah baru mulai beredar di tengah masyarakat dalam setahun terakhir. Terutama menjelang Muktamar ke-34 NU 2021 di Lampung, banyak kiai dan tokoh NU dari berbagai daerah yang secara khusus minta sanad silsilah ijazah ke Pondok Pesantren Tebuireng,” Zakariya menjelaskan.
Alhasil, kini berbagai kegiatan istigotsah atau lailatul ijtima warga Nahdliyyin mulai mengamalkan wirid yang memiliki sanad silsilah ijazah langsung ke Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Ulama NU yang dikenal sebagai pengamal dan pemberi ijazah alias mujiz Istigotsah Hasyimiyah yaitu KH Abdul Choliq Hasyim, generasi kelima sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Sebelumnya, pesantren Tebuireng dipimpin Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari selaku pendiri, kemudian dilanjutkan KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdul Karim Hasyim, KH Achmad Baidlowi dan KH Abdul Choliq Hasyim.
KH Abdul Choliq Hasyim dipercaya masyarakat mewarisi kesufian dan karomah sang ayah. Ia dilahirkan pada tahun 1916, putra keenam pasangan KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah. Sejak kecil, karomah sudah tampak.
Diamalkan Terbatas oleh KH Fakhruddin Dasuki
KH Fakhruddin Dasuki merupakan alumni Pondok Pesantren Tebuireng di bawah era kepemimpinan KH Abdul Choliq Hasyim, 1965. Era ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai peristiwa Gestapu, Gerakan 30 September 1966 alias G30S PKI.
Saat meletusnya Peristiwa Gestapu, daerah Pondok Pesantren Tebuireng dan sekitarnya menjadi salah satu basis utama perjuangan santri dan Kiai NU di Jawa Timur dalam melawan PKI.
Selain sebagai santri senior, pada 1965 Fakhruddin Dasuki dipercaya mengemban koordinator keamanan Pondok Pesantren Tebuireng, yang bertanggung jawab secara penuh atas keamanan para kiai dan keluarga, dewan guru dan seluruh santri.
Besarnya peran dan tanggung jawab dalam menjaga keamanan seluruh warga Pesantren Tebuireng di tengah peristiwa dan suasana genting Gestapu 1965-1966 yang diemban oleh Fakhruddin Dasuki, mendorong KH Abdul Choliq Hasyim, pimpinan pesantren yang juga putra KH Hasyim Asy’ari, memberikan ijazah Istigotsah Hasyimiyah kepadanya.
“KH Fakhruddin Dasuki menerima ijazah Istigotsah Hasyimiyah dari KH Kholiq Hasyim pada tahun 1965. Saat itu selain sebagai santri, beliau juga merangkap sebagai koordinator keamanan Pondok Pesantren Tebuireng,” tegas Zakariya.
Sejak tahun 1965, lanjut pria kelahiran Triwulan, Mojokerto ini, Istigotsah Hasyimiyah hilang dari peredaran. Wirid ini tidak banyak diketahui oleh umumnya warga NU.
Jenis wirid susunan KH Hasyim Asy’ari tersebut hanya diamalkan secara terbatas oleh KH Fakhruddin Dasuki dan keluarganya.
Kembali ke Ahli Waris KH Hasyim Asy’ari
Zakariya mengemukakan, awal ditemukannya kembali Istigotsah Hasyimiyah tatkala alumni Pondok Pesantren Tebuireng, jombang, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Thoriqul Huda, Ponorogo, KH Fakhruddin Dasuki mengemukakan kisahnya menerima, mengamalkan dan menjaga jimat pusaka yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari pada 2015.
Kisah ihwan Istigotsah Hasyimiyah baru terungkap saat dua orang ahli waris KH Hasyim Asy’ari, dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Gus Zaki Haziq dan Gus Cecep, bersilaturrahim ke kediaman KH Fakhruddin Dasuki, di Pondok Pesantren Thoriqul Huda, Kabupaten Ponorogo.
Peristiwa ini menjadi momentum penting, karena jimat pusaka maha guru ulama NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang hilang jejaknya sejak tahun 1965, berhasil ditemukan kembali.
Kedatangan Gus Zaki Haziq dan Gus Cecep ke Pondok Pesantren Thoriqul Huda dimanfaatkan oleh KH Fakhruddin Dasuki untuk mengijazahkan dan menyerahkan kembali Istigotsah Hasyimiyah ke keturunan sang kiai.
Pada 2016 atau setahun berselang setelah mengijazahkan kembali sanad sislilah Istigotsah Hasyimiyah ke keluarga KH Hasyim Asy’ari, KH Fakhruddin Dasuki yang selama hidupnya dikenal sebagai tokoh pejuang melawan PKI, meninggal dunia.
Setelah menerima ijazah Istigotsah Hasyimiyah dari KH Fakhruddin Dasuki, Gus Zaki Haziq dan Gus Cecep mulai memperkenalkan dan menyebarkan wirid ini ke keluarga besar KH Hasyim Asy’ari maupun jaringan Pondok Pesantren Tebuireng.
Beberapa tahun silam, Gus Zaki Haziq dan Gus Cecep yang menerima sanad silsilah ijazah Istigotsah Hasyimiyah dari KH Fakhruddin Dasuki sebelum meninggal dunia, sebelum wirid ini banyak diketahui dan diamalkan umum.
Sepeninggalan Gus Zaki Haziq dan Gus Cecep, perjuangan memperkenalkan dan membumikan kembali Istigotsah Hasyimiyah di tengah masyarakat dilanjutkan oleh Gus Fahmi Amrullah Haziq, pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, kakak kandung Gus Zaki Haziq.
Gus Fahmi Amdrullah Haziq dibantu oleh alumni Fakultas Dakwah Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng yang juga Ketua Yayasan Jabal Nur, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, KH Zakariya Amiruddin.
Ahmad Fahir
