BOGOR, KABUYUTAN.com – Umumnya urang Sunda pareum obor alias putus silsilah genetika dengan Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, sebagai karuhun utama yang menurunkan sebagian besar menak dan merupakan leluhur dari banyak wargi bumi Pasundan. Ada semacam perasaan sungkan untuk mengakui sebagai keturunan Prabu Siliwangi dengan alasan tertentu.

Indikator terputusnya silsilah genetika dengan Prabu Siliwangi dan para karuhun Sunda lainnya, dapat diamati dengan minimnya literasi masyarakat terhadap silsilah nasab keluarga. Pengetahuan akar nasab keluarga terbilang terbatas. Rata-rata hanya mengenal orang tua hingga generasi ke-3 alias buyut atau ke-4, bao.

Minimnya pengetahuan terhadap akar silsilah genetika keluarga, memicu kesungkanan untuk mengakui Prabu Siliwangi, sebagai kakek buyut sebuah keluarga. Keterputusan silsilah genetika berdampak pada lemahnya kepedulian dalam merawat budaya dan bahasa Sunda, sebagai akar dan asal mula keluarga.

Haul Kubro Karuhun Keramat Pasarean, Bojong Kaum, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogot, Jumat (16/1/2026) mengangkat tema “Urgensi Menyambung Sislilah Genetika dan Merawat Warisan Perjuangan Karuhun Sunda dalam Melestarikan Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah”.

Lalu bagaimana cara menyambung silsilah DNA pada karuhun Sunda? Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor, Dr. KH. Romdhon, MH, memberikan kiatnya. Secara umum cara menyambung silsilah genetika dapat dilakukan dengan memperkuat silaturrahim.

HADIRI HAUL KARUHUN BOJONG KAUM: Rais Syuriyah PCNU Kabupatrn Bogor, Dr. KH. Romdhon (tengah) dan Wakil Rais Syuriyah PCNU, KH. Saepul Milah (kanan) menghadiri haul Raden Santri Wijaya Kusumah dan karuhun Bojong Kaum, Jumat (16/1/2026).

Ia menganalogikan relasi dengan dunia karuhun seperti layaknya hubungan dengan mereka yang masih hidup. Hubungan dengan orang tua, saudara, keluarga, baraya, kolega, guru atau mitra kerja akan menguat atau melemah tergantung pada intensitas silaturrahim.

“Tanpa silaturrahim, jangankan hubungan dengan yang belum kita kenal, dengan yang sudah akrab pun akan melemah. Tanpa silaturrahim kita akan lupa atau dilupakan orang lain. Begitu pula hubungan dengan karuhun yang bersifat transendental, dapat dilakukan dengan cara silaturrahim,” ujarnya.

Dengan silaturrahim, kita akan lebih dekat dengan orang tua yang sudah wafat, baik ayah, kakek, bao, buyut, dan seterusnya. Hubungan dengan yang sudah kenal akan lebih berkualitas. Sedangkan pada karuhun yang semula belum dikenal jadi terbangun.

“Silaturrahim dan khdimat, bahasa Sundanya babakti karuhun, dapat dilakukan dengan doa. Tidak ada lagi yang diharapkan oleh orang tua atau karuhun kita kecuali doa dari anak cucunya,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Yasina, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor ini.

ZIARAH KERAMAT PASAREAN: Rais Syuriyah PCNU, Kiai Romdhon, menziarahi makam Raden Santri Wijaya Kusumah, sesepuh Bojong Kaum, di Keramat Pasarean, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat (16/1/2026).

Selanjutnya, sambung Kiai Romdhon, pada waktu-waktu tertentu kita perlu menyambangi secara langsung makam orang tua atau karuhun, dengan berziarah. Ziarah artinya kita inget, cinta dan khidmat kepada sepuh.

“Melalui ziarah kualitas doa dan hubungan kita dengan orang tua dan siapapun yang telah wafat akan terbangun makin kuat. Secara ruhani lebih sering bertemu, sehingga chemistinya kian terbangun,” bebernya.

Terakhir, langkah penelusuran dan penguatan silsilah genetika keluarga dapat ditempuh dengan berkomunikasi secara langsung. Ada ilmunya khusus agar bisa komunikasi dengan mereka yang sudah meninggal.

Intensitas doa, ziarah dan tirakat yang dilakukan seseorang, akan membantunya dalam menyambung silsilah genetika keluarga. “Kalau kita banyak ziarah dan tirakat, ruhani akan terlatih. Kita akan peka terhadap dunia karuhun.” (Ahmad Fahir)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *