TANGERANG, KABUYUTAN.com – Ribuan seuweu siwi keturunan Raden Aria Wangsakara dari berbagai penjuru Tanah Air tumplek blek memadati halaman Pendopo Taman Makam Pahlawan (TMP) Lengkong Kiai, Desa Lengkong Kulon, Keacamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Rabu malam (21/1/2026) untuk memperingati haul ke-345 sang tokoh.
Raden Aria Wangsakara adalah seorang ulama, menak Sunda Sumedang, tokoh pejuang dan pahlawan nasional. Pemerintah Indonesia mengukuhkannya sebagai pahlawan nasional pada 2023, atas jasa besar dan dedikasi semasa hidup untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Aria Wangsakara merupakan tokoh utama di balik lahirnya Kabupaten Tangerang –kini berkembang menjadi tiga kabupaten/ kota, yakni Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan– pada 1632 alias 394 tahun lalu. Ia adalah pendiri kabupaten yang terletak di sebelah barat Provinsi DKI Jakarta tersebut.
Sejumlah tokoh nasional tercatat sebagai keturunan Raden Wangsakara, antara lain Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015-2018 yang juga Wakil Presiden RI tahun 2019-2024 KH Ma’ruf Amin, ulama terkemuka Banten Abah KH Uci Turtusi, Menteri Luar Negeri Indonesia tahun 2001-2009, Hassan Wirajuda, Gubernur Banten periode 2017-2022, Wahidin Halim, dan KH Imaduddin Utsman al-Bantani.

Haul ke-345 Aria Wangsakara digagas secara kolaboratif oleh Yayasan Aria Wangsakara dan Ikatan Keluarga Besar Aria Wangsakara (IKBAR). Selain dibanjiri ribuan seweu siwi, perhelatan akbar ini juga dihadiri Raja Sumedang Larang, Paduka Yang Mulia Sri Radya HRI Lukman Soemadisoeria, Gubernur Banten, Andra Soni, dan Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid.
Raden Aria Wangsakara tercatat lahir pada tahun 1615 di Sumedang Larang dan wafat pada 1681 di Tangerang. Ia merupakan putra Pangeran Wiraraja I, putra Raja Sumedang Larang Prabu Geusan Ulun, putra Pangeran Santri Sayyid Maulana Soleh, Sumedang.
Dari garis ayah, Pangeran Santri Maulana Soleh adalah cicit wali besar tanah Sunda, Syaikh Datul Kahfi, Gunung Jati, Cirebon. Sedangkangkan dari garis ibu, Ratu Pucuk Umun Sumedang Nyi Mas Inten Dewata merupakan cicit Raja Sunda Pajajaran, Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang bertahta di Keraton Pakuan, Kota Bogor tahun 1482-1521.

Pangeran Wiraraja I diutus oleh Raja Sunda Sumedang Larang yang tak lain ayahandanya, Prabu Geusan Ulun untuk memimpin wilayah Tangerang, ujung barat wilayah kekuasaan Sumedang Larang. Batas utama wilayah Kerajaan Sumedang Larang – Kesultanan Banten yaitu Sungai Cisadane (1579-1601).
Setelah Prabu Geusan Ulun wafat pada tahun 1601, pengaruh Kerajaan Sumedang Larang menurun. Sumedang dan wilayah bekas bagian kekuasaannya berubah menjadi kabupaten, termasuk Tangerang. Selanjutnya wilayah Tangerang memilih bergabung sebagai bagian dari Kesultanan Banten.
Haul ke-345 Wangsakara diperingati dengan sejumlah rangkaian kegiatan dari petang hingga tengah malam. Pada pukul 15.30-16.30 dilaksanakan ziarah bersama. Pukul 20.00-21.00 digelar pembacaan Manaqib Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jailani QS. Puncak acara pada pukul 21.00-23.00.

Pegiat budaya Sunda Bogor, Ustadz Gina Maulana alias Ki Paten, mengungkapkan apresiasinya atas dukungan masyarakat luas dan para pemangku kepentingan terkait pada haul ke-345 Raden Aria Wangsakara. Hal itu sebagai wujud pengakuan masyarakat atas jasa besar sang tokoh pada agama, bangsa dan negara.
Ki Paten yang juga anggota IKBAR mengajak masyarakat luas agar selalu mengingat jasa para local hero, yakni tokoh, ulama dan pejuang di wilayah masing-masing, baik dengan ziarah, napak tilas, peringatan haul hingga pelestarian warisan ajaran dan nilai adiluhung yang ditinggalkan. Hal itu dipandangnya penting, sebagai wujud terima kasih generasi hari ini atas jasa besar para karuhun pendahulu, pancakaki silsilah genetika hingga perawatan purwadaksi.
“Jangan sampai ada penyimpangan sejarah, tokoh yang memiliki jasa besar untuk bangsa dan negara ini dilupakan, sementara orang yang tidak punya andil perjuangan justru diklaim sebagai pejuang. Hal ini harus menjadi perhatian bersama. Bangsa yang besar adalah yang merawat sejarahnya dengan baik, selalu mengingat jasa para karuhun dan para pahlawannya,” demikian Ki Paten. (Ahmad Fahir)
