Oleh Ahmad Fahir, Kader Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor
BOGOR, KABUYUTAN.com -Bogor merupakan daerah unik, khas dan penuh legenda. Bogor adalah kota pusaka keramat. Setiap jengkal tanah Bogor memiliki makam keramat, situs bersejarah atau jejak mahakarya eksotisme peninggalan para leluhur Sunda dalam bentang panjang ribuan tahun.
Di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, misalnya, terdapat makam ulama besar Indonesia dan pahlawan nasional, Dr. KH Idham Chalid. Seorang tokoh panutan yang disegani dan pemimpin sentral Nahdlatul Ulama pada era Orde Lama dan Orde Baru.
Makam KH Idham Chalid terletak di kompleks Pondok Pesantren Yatim Piatu Darul Qur’an, Jalan Raya Puncak, Cisarua. Sejak 2010, jasad ulama yang dikenal dengan julukan “Politisi Air Mengalir” terbujur kaku dalam peristirahatan abadi menghadap sang khalik.
Keberadaan makam tokoh nasional KH Idham Chalid di Cisarua, kian memperbanyak jumlah makam keramat yang tersebar di seantero Kabupaten dan Kota Bogor. Ada ratusan makam keramat lintas zaman yang tersebar di tanah legenda Bogor.
Momentum peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 Tahun NU berdasarkan penanggalan Hijriah (16 Rajab 1344 – 16 Rajab 1447), ada baiknya kita mengenang tokoh-tokoh yang berjasa besar bagi NU dan bangsa. Setidaknya menyambangi makam ulama yang ada di wilayah kita, salah satunya KH Idham Chalid, ulama yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berkhidmat pada NU dan Nahdliyyin.
Wasiat Minta Dimakamkan di Bogor
KH Idham Chalid sendiri sejak masih hidup sudah menyampaikan keinginannya pada keluarga, jika meninggal dunia agar dimakamkan di tengah pesantren yang berisi anak yatim para penghapal Al-Qur’an. Dan sejak lama ia mendirikan pesantren dimaksud di kawasan Cisarua, dengan tujuan sebagai taman doa dan lokasi penguburan jenazahnya.
Selain membangun Pesantren Al-Qur’an di Cisarua, Kabupaten Bogor KH Idham Chalid terbilang memiliki relasi kuat dengan Bogor. Ia memiliki rumah dari garis isteri putri Sunda, Ny Hj Roqoyah, di daerah Ciwaringin, Kecamatan Bogor Bogor Tengah, Kota Bogor. Kawasan Ciwaringin Kaum sejak era Orde Lama hingga sekarang dikenal sebagai basis utama perjuangan NU Kota Bogor.

Oleh karena itu, saat meninggal dunia pada Minggu (11/7/2010), pihak keluarga tidak ragu untuk membumikan KH Idham Chalid di Cisarua, sesuai wasiatnya. Padahal saat itu, pemerintah meminta agar jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Pasalnya almarhum memiliki hak dimakamkan di Kalibata, karena semasa hidupnya mendapat tanda jasa tinggi atas dedikasi besarnya membela negara.
Saat pemakaman jenazah KH Idham Chalid, penulis ikut proses penyalatan hingga penguburan. Saat itu, secara kenegaraan upacara pelepasan dipimpin oleh Menteri Agam Suryadharma Ali. Bupati Bogor, Rachmat Yasin memimpin proses pemakaman tokoh yang menjadi figur sentral lahirnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1971 tersebut.
Sedangkan shalat jenazah dan talqin dipimpin Pengasuh Pesantren Daarul Rahman, Jakarta, Prof KH Syukron Ma’mun. Untuk momen sakral yang satu ini, KH Idham Chalid jauh sebelum wafat sudah berwasiat, agar bila meninggal dunia dishalatkan dan ditalqin oleh KH Syukron Ma’mun.
Kiai Syukron Ma’mun tak lain sebagai ulama Indonesia yang ia kader. Bahkan ia yang membawa KH Syukron selepas menamatkan pendidikan di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pesantren Gontor, Ponorogo ke Jakarta pertengahan 1960-an, untuk menjadi asisten pribadinya sebagai Ketua Umum PBNU dan Jurkamnas Partai NU kala itu.
Saat KH Idham Chalid wafat, penulis bekerja sebagai reporter Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, kantor berita milik negara. Waktu itu kebetulan yang menjadi Pemimpin Redaksinya adalah Gus Saiful Hadi Chalid, salah satu putra KH Idham Chalid.
“Saya titip makam ayah ke orang Bogor ya, Kang Fahir. Tolong dibantu didoakan,” kata Saiful Hadi Chalid pada penulis.
Gus Taufiq Rahman Chalid, kakak kandung Saiful Hadi Chalid, suatu ketika dalam perbincangan dengan penulis di kediamannya, di Cinere, Kota Depok mengatakan, ayahnya tokoh yang paling cepat mendapatkan gelar pahlawan nasional. Hanya butuh waktu setahun lebih sudah dikukuhkan Pemerintah sebagai pahlawan nasional.
Usia 34 Tahun Menjadi Ketua Umum PBNU
Kiai Idham Chalid lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung lima bersaudara dari H Muhammad Chalid. Saat usia enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai, kampung halaman leluhur ayahnya.
Kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Ia bukanlah sosok yang berasal dari warga kota besar. Ia hanyalah putra kampung yang merintis karier dari tingkat yang paling bawah, sebagai guru agama di kampungnya. Tapi kegigihannya dalam berjuang, dan kesungguhannya untuk belajar dan menempa pribadi, telah mengantar dirinya ke puncak kepemimpinan nasional yang disegani.
Idham tercatat sebagai tokoh termuda yang pernah memimpin NU. Idham dipilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 1956. Saat itu usianya baru 34 tahun. Prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.
Karir Idham di ormas yang didirikan ulama dan memiliki akar kuat baik di pedesaan maupun di perkotaan tersebut terbilang sangat cemerlang. Semasa kepemimpinan Idham di PBNU tidak pernah terjadi gejolak internal. Kepemimpinannya di NU paling lama yaitu 28 tahun.
Idham merupakan sosok pemimpin yang terlahir alami dari bawah. Ia tidak mengandalkan faktor keluhuran dinasti maupun kekuatan materi, dua faktor terpenting dalam kontestasi politik nasional, dalam merintis karirnya yang panjang dan cemerlang. Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawaian dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar dan pemimpin nasional disegani.
Politisi Air Mengalir, Mampu Brertahan pada Segala Cuaca
Kalangan pengamat politik Indonesia, banyak mencatat bahwa Idham Chalid merupakan salah seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada segala cuaca. Idham Chalid memiliki kemampuan adaptasi luar biasa, sehingga mudah diterima setiap zaman. Karenanya, ia dijuluki sebagai politisi air mengalir, karena kepiawannya beradaptasi dengan perubahan.
Ia pernah menjadi Ketua Partai Masyumi Amuntai, Kalimantan Selatan, dan dalam Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai NU. Ia pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia, 34 tahun..
Di NU, ia dipercaya warga nahdliyyin untuk memimpin PBNU di tengah cuaca politik yang sangat sulit, dengan memberinya kepercayaan menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU selama 28 tahun (1956-1984).
Di samping berada di puncak kekuasaan pimpinan NU, ia juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956-1957. Presiden Soeharto memberikankepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967-1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970-1971),Ketua MPR/DPR RI (1971-1977) dan Ketua DPA (1977-1983).
Meskipun berbeda pandangan politik, Kiai Idham tetap menjalin silaturrahmi dan ukhuwah dengan Buya Hamka. Perbedaan partai tidak mengurangi silaturrahmi dengan yang lain, sehingga KH Idham dengan Buya Hamka tetap akur dan saling menghormati. Ketidakharmonisan dalam bidang politik tidak lantas membuat Idham tidak harmonis dalam ukhuwwah Islamiyah maupun rajutan tenun kebangsaan.
Diabadikan Menjadi Nama RSUD di Ciawi
Pengakuan terhadap jasa besar KH Idham Chalid terhadap bangsa dan negara bukan hanya datang dari Pemerintah Indonesia melalui penetapan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2011, namun juga dari Pemerintah Kabupaten Bogor.
Menyambut Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543 pada 3 Juni tahun 2025, Pemkab Bogor memberikan kado kepada masyarakat luas dengan mengukuhkan nama KH Idham Chalid sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Ciawi.
Sebelumnya pusat layanan kesehatan unggulan masyarakat bagian selatan Kabupaten Bogor itu bernama RSUD Ciawi. Kemduian Bupati Bogor, Rudy Susmanto mengubah namanya menjadi RSUD KH Idham Chalid, pada pertengahan Mei 2025.

Pengabdian KH Idham Chalid sebagai nama RSUD di Ciawi sebagai langkah strategis yang memiliki alasan kuat. Selama hidupnya, KH Idham Chalid memberikan perhatian besar pada isu kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan penting pemerintahan, yang berhubungan langsung dengan bidang kesejahteraan.
Selanjutnya, KH Idham Chalid merupakan ulama besar NU dan tokoh pesantren. Pengabadian sebagai nama RSUD di Ciawi menunjukkan keberpihakan Pemkab Bogor pada NU dan komunitas pesantren, sebagai entitas terbesar di bumi Prabu Siliwangi Bogor.
Selain itu, KH Idham Chalid merupakan pahlawan nasional yang jenazahnya dimakamkan di Kecamatan Cisarua, yang hanya radius belasan KM dari RSUD Ciawi. Artinya, ia merupakan tokoh besar bangsa yang lokasi makamnya dekat Ciawi, memiliki kedekatan jarak dengan RSUD.
Penghargaan terhadap nama KH Idham Chalid berarti bahwa Pemda Bogor peka terhadap kearifan lokal, dengan mengangkat dan mengabadikan local hero setempat sebagai nama RSUD.
Semoga saja ke depan semakin banyak lagi local hero Bogor yang diabadikan dan dilestarikan, baik berupa monumen maupun dengan berbagai cara lain yang lebih strategis untuk kepentingan edukasi sejarah dan pewarisan nilai adiluhung wargi Sunda Bogor.***
