Oleh: Ahmad Fahir

SUMEDANG, KABUYUTAN.com – “Tidak nakhoda tangguh yang lahir dari laut yang tenang.” Seorang pemimpin besar lahir dan karakter kuatnya dibentuk melalui penempaan keras dan perjalanan berliku nan getir. Pepatah itu tepat untuk menggambarkan profil Pangeran Kornel, simbol perlawanan rakyat Sunda pada penjajah Belanda, Bupati heroik legendaris yang memimpin Sumedang tahun 1791-1828.

Pangeran Kornel bukanlah nama sebenarnya. Nama ini lebih melekat dan popular ketimbang nama bawaan lahir sang pangeran atau gelar bangsawan Sumedang yang disematkan padanya saat menjabat sebagai bupati.

Pangeran Kornel merupakan gelar yang diberikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, atas jasa besarnya dalam pembangunan Sumedang. Gelar yang diberikannya adalah “Kolonel Tituler”. Istilah kolonel dalam lidah orang Sunda berubah pengucapan menjadi Kornel.

Pangeran Kornel merupakan putra Pangeran Surianagara II, Bupati Sumedang tahun 1761-1765. Ia terlahir dengan nama kecil Raden Asep Jamu. Saat menjabat Bupati Sumedang bergelar Pangeran Kusumahdinata IX/ Pangeran Surianagara III.

Pangeran Kornel merupakan pemimpin Sumedang paling terkenal pada era kolonial. Namanya dikenal karena keberanian dan sikap heroiknya dalam membela rakyat, dengan menentang kebijakan sewenang-wenang yang diberlakukan Gubernur Hindia Belanda, Herman Willem Deandels.

Proyek Ambius Jalan 1.000 KM Anyer – Panarukan

Deandels dikenal sebagai Gubernur Hindia Belanda yang bengis dan kejam. Ia memberlakukan kerja paksa untuk mewujudkan proyek ambisius kolonial, melalui gagasan Pembangunan jalan 1.000 KM dari Anyer, Banten ke Panarukan, Kabupaten Situbindo, Jawa Timur, pada 1808.

Proyek ambisius pemerintah kolonial Belanda terhalang oleh adanya gunung cadas yang menjulang di daerah Sumedang.

Dengan kekuasaan tangan besinya, Deandels memaksa Bupati dan rakyat Sumedang agar membobok gunung cadas secara manual, dengan berbekal peralatan tradisional sederhana seperti linggis dan pacul.

Dengan peralatan sangat sederhana dan terbatas tersebut, Deandels memberikan dead line 10 hari kepada rakyat Sumedang untuk kerja rodi alias kerja paksa tanpa upah. Dalam tempo sesingkat itu, ia memerintahkan agar gunung cadas harus bisa dibobok.

Akibat Tindakan kejam Deandels, banyak rakyat Sumedang tewas terjerumus ke jurang akibat tidak dilengkapi peralatan yang memadai, tidak mampu menahan beban kerja ekstrem, terjangkit berbagai penyakit hingga terserang wabah kelaparan.

Aksi Heroik Perlawanan Pangeran Kornel

Melihat banyaknya jenazah rakyat bergelimpangan di gunung cadas, Pangeran Kornel melakukan perlawanan pada Pemerintah Hindia Belanda. Saat Deandels yang dikenal sebagai Jenderal Bengis melakukan kunjungan, dengan gagah berani ia melakukan aksi protes keras.

Saat sang gubernur jenderal mengajak salaman, Pangeran Kornel menyambutnya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan sang pangeran memegang keris Nagasastra warisan Maharaja Sunda Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, bersiap memenggal leher Deandels.

Pemimpin Heroik & Simbol Perlawanan Rakyat Sunda: Pangeran Kornel/ Pangeran Kusumahdinata IX/ Pangeran Surianagara III, bupati Sumedang tahun 1791-1828.

Respons Deandels menyikapi langkah Pangeran Kornel di luar dugaan. Ia tidak murka atas apa yang ditunjukkan Pangeran Kornel, malah bertanya apa keinginan sang bupati.

Pangerann Kornel kemudian mengemukakan tuntutannya agar pengerjaan proyek ekstrem pembobokan gunung cadas tidak melibatkan rakyat. Pasalnya kebijakan tersebut telah banyak memakan korban jiwa.

Tuntutan Pangeran Kornel itu dipenuhi Deandels. Selanjutnya pengerjaan proyek pembobokan gunung cadas diambil alih tentara kolonial, dengan menerjunkan pasukan zeni Belanda dengan menggunakan bahan peledak.

Diabadikan sebagai Toponimi dan Monumen

Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas aksi heroik sang bupati, masyarakat Sumedang mengabadikan momen bersejarah tersebut sebagai toponimi dengan nama Cadas Pangeran, merujuk pada Pangeran Kornel/ Kusumahdinata IX/ Pangeran Surianagara III.

Selain diabadikan sebagai nama daerah, di tebing lokasi pertemuan Pangeran Kornel dengan Deandels kini berdiri kokoh patung kedua tokoh sedang bersalaman, sebgai monumen bersejarah.

Patung Pangeran Kornel dan Deandels terletak di Jalan Nasional Bandung – Sumedang – Cirebon. Saat belum dibangun akses Tol Cisumdawu, pengendar dari arah Bandung menuju Sumedang – Cirebon atau sebaliknya, biasanya melintasi Cadas Pangeran.

Nama Pangeran Kornel dan Cadas Pangeran bukan hanya diabadikan dalam bentuk toponimi dan monumen gagah menjulang, namun kisahnya juga menjadi inspirasi para seniman dalam membuat tembang lagu.

Sebut misalnya Abdoel Wahyoe Affandi yang lebih dikenal Doel Sumbang menjadikan nama Cadas Pangeran sebagai inspirasi salah satu tema tembang.

Aom Jamu Muda Melarikan Diri ke Cianjur

Ketangguhan karakter Pangeran Kornel hingga menjadi bupati legendaris Sumedang dan namanya harum hingga era sekarang sebagai simbol perlawanan rakyat Sunda terhadap kolonialisme Belanda, tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup keras dan berliku saat muda. Ia ditempa di lingkungan yang keras, layaknya seorang nakhoda tangguh yang lahir dari perairan ganas, dibentuk oleh laut ekstrem.

Sejatinya Pangeran Kornel adalah pewaris tahta Bupati Sumedang untuk menggantikan sang ayah, Pangeran Surianagara II, yang wafat tahun 1765. Saat ayahnya meninggal dunia, ia masih kecil. Kemudian jabatan bupati dilanjutkan pamannya, Dalem Surialaga I (1765-1773).

Saat Dalem Surialaga meninggal, pangeran Kornel masih remaja. lalu kekosongan jabatan diisi oleh bupati penyelang, Raden Adipati Wiratanubaya (1773-1791). Saat Dalem Wiratanubaya meninggal dunia, ia digantikan oleh menantunya, Patrakusumah (1789-1791).

Raden Asep Jamu muda dinikahkan dengan Raden Ayu Rajaningrat, putri R. Patrakusumah.  Ternyata Patrakusumah memiliki niat jahat kepada Asep Jamu. Ia berniat membunuhnya, untuk menghalangi sang menantu menjadi bupati.

Asep Jamu selamat dari berbagai upaya pembunuhan yang dilakukan Patrakusumah. Ia meloloskan diri ke Limbangan, daerah Garut sekarang, tinggal dengan kerabat kakeknya. Kendati telah melarikan diri ke Limbangan, ternyata pasukan loyalis Patrakusumah terus mengejar dan mengintainya, karena dekatnya jarak dari Sumedang.

Lalu ia meloloskan diri ke Cianjur, meminta perlindungan kepada Dalem Wiratanu Datar VI, R. Noh Wiranagara, bupati Cianjur periode 1776-1813. Dalem Noh bukan hanya menyambut dengan kedua tangan terbuka, melainkan memperlakukan Aom Jamu layaknya anggota keluarga sendiri.

Kemudian Dalem Noh Wiranagara memberikan kepercayaan kepada Asep Jamu –Di Cianjur namanya lebih dikenal dengan panggilan Aom Jamu– sebagai camat Cikalong. Dalem Noh juga menikahkah Aom Jamu dengan kerabatnya, NR Lenggang Kusumah.

Pada tahun 1791, saat terjadi kekosongan jabatan Bupati Sumedang, Dalem Noh mengusulkan kepada pemerintah Hindia Belanda agar mengangkat Aom Jamu sebagai bupati. Usulan tersebut diterima. Aom Jamu menjabat bupati Sumedang dari tahun 1791 hingga 1828. (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *