Oleh Ahmad Fahir, Kader PCNU Kabupaten Bogor

Nahdlatul Ulama genap berusia 100 tahun versi kalender Masehi. NU berdiri 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur. Usia NU sudah 103 tahun berdasarkan penanggalan Hijriyah. NU berdiri 16 Rajab 1344. Tahun ini bulan Januari dan Rajab bertemu, sehingga peringatan hari lahir NU ke-100 versi Masehi atau 103 hitungan Hijriyah digelar secara bersamaan.

NU lahir melalui proses perjalanan panjang, bukan hanya berangkat dari dialektika ulama Nusantara kala itu, namun lebih pada upaya merespons dinamika global yang terjadi, saat Ibnu Saud yang ditopang oleh ulama Wahabi menguasai Kerajaan Saudi. Mereka berkuasa penuh atas dua situs penting kota suci umat Islam dunia, yaitu tanah haram Mekah dan Madinah.

Kala itu para ulama Nusantara dan dunia dihebohkan oleh rencana Raja Saudi untuk meratakan makam Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan situs-situs bersejarah peninggalan keluarga maupun sahabat Nabi dengan tanah. Dalihnya, menjadi pusat praktik kemusyrikan, sebagaimana keyakinan penganut Wahabi yang mereka pegang hingga sekarang, bahwa ziarah ke kuburan hukumya haram.

Komite Hijaz, Tonggak Berdirinya NU

Rencana Raja Saudi yang ditopang oleh ulama Wahabi kala ini, mendorong para ulama Hindia Belanda dari seantero negeri bangkit dan membuat Prakarsa melaui pembentukan Komite Hijaz. Tugas komite ini menyampaikan aspirasi para ulama dan umat Islam Nusantara kepada pihak Kerajaan Saudi, agar membatalkan rencana penggusuran makam nabi.

Sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan para ulama, tidak dapat dilepaskan dari Komite Hijaz. Komite Hijaz adalah kepanitiaan kecil yang dibentuk bersamaan berdirinya NU tanggal 26 Januari di Surabaya. Semula komite ini menunjuk KH Asnawi Kudus dan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai delegasi untuk pergi ke tanah suci, namun batal berangkat.

DUNIA ISLAM BERHUTANG PADA NU: Komite Hijaz NU, KH Wahab Chasbullah, dan Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, mata rantai sejarah tidak terpisahkan dari kontrubusi besar NU menyelamatkan warisan terbesar dunia Islam, makam Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tahun 1928.

Misi Komite Hijaz NU yang tertunda pada 1926, baru terlaksana dua tahun kemudian, yaitu pada 1346 H alias 1928 M. Komite Hijaz diwakili oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan Syaikh Ahmad Ganayim al-Amir al-Misri al-Azhari.

Saat tiba di tanah suci, KH Wahab terlebih dahulu menemui para ulama Nusantara yang bermukim di Hijaz. Yang pertama ditemui adalah Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, ulama asal Kabupaten Bogor, yang menjadi pemimpin ulama Hijaz kala itu. Beliau adalah imam besar Masjidil Haram, yang memiliki halaqoh yang diikuti ribuan ulama dari berbagai belahan dunia.

Dari rilis dokumen sejarah dan arsip PBNU, disebutkan setelah menemui Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, Komite Hijaz NU yang dipimpin KH Wahab Chasbullah melanjutkan misi perjuangan mulia dengan menemui Raja Saudi, Abul Aziz bin Abdul Rahman al Saud, atau lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Saud.

Berkat jasa perjuangan Komite Hijaz, raja Saudi membatalkan rencana kontroversial penggusuran makam Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Hingga sekarang makam Nabi masih terjaga dengan baik. Tidak berlebihan kalau Grand Syaikh Thorikoh Naqsabandiah Haqqaniyah, Syaikh Hisyam Kabbani QS menyebutkan, dunia Islam berhutang budi pada NU atas jasa penyelamatan makam Kanjeng Nabi.

Mengenal Syaikh Mukhtar Al-Bughuri

Mengingat betapa pentingnya misi dan gerakan Komite Hijaz yang menjadi tonggak lahirnya NU, tokoh-tokoh yang terlibat secara langsung menarik disimak kiprah dan sepak terjang perjuangannya. Selama ini kita sudah sangat familiar dengan KH Wahab Chasbullah, sebagai pelaku utama Komite Hijaz sekaligus tokoh penggerak NU.

Namun, para ulama yang memiliki peran besar mendukung misi yang diemban Komite Hijaz, yang menjadi tonggak sejarah kelahiran NU, perlu diapresiasi. Diantaranya Imam Besar Masjidil Haram, Mekah, Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, menak Sunda Pakuan Bogor yang menjadi pemimpin ulama negeri hijaz. Orang Bogor menyebut beliau Mama Guru Mukhtar.

Pada 2021, saya pernah membuat seminar khusus bertema melacak akar genealogi inelektual Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, dengan mengundang Rais Syuriah PBNU, KH. Masdar Farid Mas’udi, dan pendiri ISNU Kota Bogor/ mantan Menteri Kelautan, Prof Dr Rokhmin Dahuri sebagai narasumber. Bertempat di Pesantren Al-Fatah, Ciomas, Kabupaten Bogor.

Gagasan pembuatan seminar melacak akar genealogi intelektual Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, berangkat dari kekaguman pada beliau sebagai sosok ulama yang layak diteladani generasi hari ini. Sebagai seorang ulama besar kaliber dunia, beliau tidak melupakan akarnya yang berangkat dari bumi Nusantara. Bahkan beliau tidak melupakan akar budaya dan bahasa Sunda.

MAHAKARYA KITAB BELUT: Salah satu mahakarya ulama asal Bogor, Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, Kitab Al-Belut. Diterjemahkan dalam versi bahasa Indonesia menjadi “Kitab Belut Nusantara”. Mahakarya ini monumental, karena hingga kini semua ulama dunia sepakat hukum makan belut halal.

Beliau memiliki nasionalisme yang utuh. Bukti komitmen nasionalisme dan kecintaan pada tanah air, antara lain ditunjukkan dengan penerbitan buku maha karya legendaris beliau: Kitab Al-Belut, sebuah buku yang mengulas hukum memakan belut. Beliau memberikan fatwa, bahaya mengeluarkan fatwa sembarangan dengan mengharamkan yang halal atau sebaliknya.

Beliau memfatwakan, hukum makan belut halal. Belut bukanlah uler, entitas hewan berbeda. Hukum makam uler jelas haram. Sedangkan belut halal. Sontak fatwa tersebut mengguncang dunia Arab dan Timur Tengah kala itu. Para ulama Wahabi yang semula memfatwakan haramanya belut tidak berkutik. Tidak ada yang menyanggah. Hingga kini semua ulama sepakat, hukum makan belut halal.

Yang lebih unik, kendati tinggal di tanah suci hingga 40 tahun, dan sebagian besar waktu hidupnya lebih banyak dihabiskan di tanah hijaz ketimbang di tanah air, namun kecintaan Syaikh Mukhtar Al-Bughuri pada akar budaya Sunda tidak luntur. Dari tanah suci, ia menulis banyak sekali kitab tentang berbagai tema yang ditulis menggunakan bahasa Sunda Bogor, yang ditulis menggunakan bahasa Arab Pegon.

Keturunan Raja Pajajaran Prabu Siliwangi

Syaikh Mukhtar Al-Bughuri lahir di Bogor, tahun 1862. Beliau adalah putra Bupati Bogor, Dalem R. Aria Natanagara. Dalam berbagai manuskrip maupun kitab-kitab karya Syaikh Maukhtar Al-Bughuri, nama sang ayah lebih popular dengan sebutan Syaikh Attharid Al-Bughuri. Al-Bughuri merupakan nisbat yang dirujuk pada kota kelahiran sang ulama.

Dalam dokumen silsilah Nasab Dalem Aria Wiratanu, Cikundul, Cianjur, disebutkan R. Aria Natanagara merupakan putra Dalem Wiratanu Datar VI Cianjur, R. Noh Wiranagara, yang menjabat bupati tahun 1776-1813. Ia memiliki 4 putra, yakni R. Prawiranegara (Dalem Cikalong), R. Aria Natanagara (Bupati Bogor), N.R. Meumeut, dan R. Abas Suria Nata Kusumah (Bupati ke-III Garut, 1833-1871).

Silsilah nasab Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, bila dirunut secara lengkap terhubung langsung dengan Raja Sunda Pajajaran, Bogor, Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi Ratu Haji Pakuan. Beliau merupakan keturunan generasi ke-13, dari garis pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Ambet Kasih, putri Raja Talaga Manggung, Majalengka.

AKAR SILSILAH GENETIKA MENAK SUNDA: Raja Sunda Pakuan Pajajaran, yang bertahta di Batutulis, Kota Bogor, 1482-1521, Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi merupakan leluhur Syaikh Mukhtar Al-Bughuri. Beliau akar silsilah genetika menak semua kerajaan yang ada di tanah Sunda.

Pada era kekuasaan Kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Talaga yang terletak di kaki Gunung Cermai, Banjaran, Kabupaten Majalengka merupakan Kerajaan bawahan Pajajaran. Kerajaan Talaga menurunkan raja-raja Sunda yang bertahta di sejumlah wilayah, yakni Majalengka, Sumedang, Subang, Cikundul hingga Jatinegara Kaum, Jakarta.

Secara lengkap nasab Syaikh Mukhtar Al-Bughuri, yakni bin Bupati Bogor R. Aria Natanegara, bin Dalem Wirata Datar VI, R, Noh Wiranagara, bin Dalem Wiratanu Datar V, R. Muhidin, bin Dalem Wiratanu Datar IV, R. Sabirudin, bin Dalem Wiratanu Datar III, R.Astra Manggala, bin Dalem Wiratanu Datar II, R. Wiramanggala, bin Dalem Aria Wiratanu, Cikundul.

Dalem Wiratanu popular dengan sebutan Kanjeng Dalem Cikundul. Beliau merupakan putra Syaikh Wangsa Goparana, Sagala Herang, Subang, bin Syaikh Aria Kikis, Banjaran, Majalengka, bin raja Talaga, Prabu Rangga Mantri, bin Prabu Mundingsari Alit, bin Prabu Mundingsari Ageung, bin Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, raja Sunda Pakuan Pajajaran, KotaBogor. (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *